BADAI TELAH BERLALU (5)

BADAI TELAH BERLALU (5)

29 Jan 2024
1.499

Kembali ke Yogya dengan jiwa dan pikiran kosong. Apakah kejadian tidak bayar SPP seperti yang pernah terjadi kala di SMA akan terulang kembali? Apakah ada malaikat penolong lagi? Hampir selama dua bulan aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Kalau ke kampus, hanya satu tujuan ke pepustakan, aku telah menerima surat peringatan yang ketika kalinya dari fakultas. Untuk mengirit sisa uang yang masih ada, makan siang cari warung yang murah, makan malam dua mie rebus cukup membuatku bisa tidur. Kegalauanku rupanya terbaca oleh Parno.

“Juno, aku perhatikan engkau tidak pernah belajar, juga jarang ke kampus, malam hanya makan mie rebus, ada masalah apa?”

“Betul Parno, aku sudah memperoleh surat cinta untuk ketiga kalinya dari fakultas, mengingatkanku untuk segera membayar biaya kuliah semester enam. Jadi semester enam ini atau mungkin malahan satu tahun aku akan istirahat dulu.”

“Maksudmu?”

“Ya nggak kuliah.”

“Kenapa?”

“Dewi minta pisah denganku,  uang kiriman biaya hidup dan biaya kuliah juga dihentikan.”

“Kalau nggak kuliah apa yang akan kamu lakukan?”

“Cari uang, tapi aku masih belum menemukan jalannya.”

“Juno, otakmu kan encer, paling gampang memberi  les anak SMA kelas dua atau tiga yang perlu pelajaran tambahan. Pesertanya pasti banyak, apalagi menjelang penerimaan mahasiswa baru.”

Betul juga kata Parno. Beruntung buku-buku pelajaran saat SMA aku bawa semua tentu akan membantu dalam pemberian pelajaran tambahan.

Malam itu, aku memberanikan diri ke warung makan Ibu Sri, sudah hampir dua bulan aku tidak makan malam di  tempatnya.

“Eeeh Juno, hampir dua bulan tidak kelihatan.”

“Iya Bu, ini juga saya mau matur.”

“Matur opo, serius sekali kelihatannya.”

“Ya.., Bu. Sebenarnya saya agak malu matur sama Ibu.”

“Lha mau matur saja pakai malu segala. Coba apa, barangkali ibu bisa bantu.”

“Iya Bu. Semester ini atau malahan satu tahun, saya istirahat tidak kuliah. Kalau boleh makan malamnya saya bon dulu, nanti akan saya ganti secepatnya.”

“Terus, cari duwitnya dari mana.”

“Mau beri les anak SMA yang perlu pelajaran tambahan.”

“Sayang ya…, kuliahnya istirahat. Tapi nanti diteruskan to… Gini saja Juno makan malamnya gratis, tapi Ibu minta Juno ngasih pelajaran tambahan kepada Putri . Sepertinya, Putri  ketinggalan beberapa mata pelajaran. Dia juga kepengin kuliah di UGM, hanya masih bingung mau ambil jurusan apa.”

Sejak itu, hampir setiap malam, setelah makan malam aku memberi pelajaran tambahan kepada Putri, anak satu-satu Ibu Sri. Nasibnya mirip denganku, ayahnya sudah meninggal. Ibu Sri berjuang sendiri membesarkan Putri . Putri  rajin membantu ibunya di warung makan serta  ramah kepada setiap pembeli. Wajahnya sedang-sedang saja, kalah cantik sama Dewi. Jika kecantikan Dewi nilainya 100, maka kecantikan Putri nilainya 80, masih dapat nilai A juga.

“Putri  pelajaran apa yang dirasa sulit?”

“Semua pelajaran Mas, terutama pelajaran yang memerlukan hitungan.”

“Baik, kita mulai pelan-pelan ya…”

Menurutku, Putri  cukup cerdas, apa yang aku terangkan dengan cepat diterima dan disimpannya dalam memorinya. Kalau nilai yang diperoleh Putri  kurang begitu menggembirakan semata-mata karena kesibukan membantu ibunya.

 “Putri, Mas Juno minta tolong diinformasikan pada teman-teman Putri, kalau Mas Juno memberi pelajaran tambahan.”

“Baik, Mas.”

Berkat bantuan Putri  aku memperoleh banyak murid yang perlu tambahan pelajaran. Informasi dari mulut ke mulut tentang kepandaianku menerangkan dengan cepat menjalar ke berbagai SMA yang ada di Yogya.

“Putri ,  Mas Juno sangat terima kasih, Putri  telah mempromosikan Mas Juno.”

“Iya Mas, banyak teman-teman Putri  kepengin kuliah di UGM.”

“Semoga teman-teman Putri  diterima di UGM.”

“Mas Juno, ma’af ya…, Putri  dengar Mas pisah  dengan Mbak Dewi.”

“Ya…, itu sudah takdir,  Mas Juno terima dengan ikhlas, Dewi bukan jodoh Mas Juno.”

“Kenapa Mas Juno nggak cari lagi pengganti Mbak Dewi?”

“Putri, engkau itu ada-ada saja. Untuk hidup saja masih susah, kuliah juga belum tentu selesai. Mas Juno belum berpikir tentang pacar. Apakah Putri  mau jadi pacar Mas Juno?” kataku bercanda.

Les yang tadinya mendatangi rumah satu persatu kini berubah menjadi kelas. Aku sewa satu kos-kosan untuk  dijadikan bimbingan belajar, waktunya sore atau malam. Aku dibantu beberapa teman dan juga para guru SMA yang menguasai pelajaran matematika, fisika, kimia, biologi dan bahasa Inggris. Pesertanya semakin bertambah banyak.  Pendapatan dari pemberian les lumayan besar bukan hanya cukup untuk membayar biaya kuliah dan praktikum selama satu tahun, biaya makan dan sewa kos serta mengirim  uang untuk Simbok, tapi juga untuk di tabung.

Dalam waktu relatif singkat aku sudah buka beberapa cabang di Yogya dan Sleman. Spanduk : “Bimbingan Belajar Matematika, Fisika, Kimia, Biologi Dan Bahasa Inggris, Dibimbing Langsung Oleh Arjuno”  terpasang di beberapa jalan strategis. Bahkan dari bimbingan belajar telah berkembang pula “Bimbingan Masuk Perguruan Tinggi.”

Hampir saja aku terjebak dalam keasyikan mencari uang melalui bimbingan belajar dan bimbingan masuk ke perguruan tinggi yang  jumlah pesertanya semakin banyak, untung Putri  mengingatkannya.

“Mas Juno, jangan lupa kuliahnya. Uang kuliah kan sudah bayar selama satu tahun.”

Ya…, ya…., betul. Tahun berikutnya aku kembali kuliah. Bukankan tujuan utama ke Yogya menjadi sarjana kehutanan? Untuk sementara bimbingan belajar dan bimbingan masuk ke perguruan tinggi aku minta bantuan kepada Mas Joko, sebagai pengelolanya dan Putri  sebagai bendahara. Aku  sendiri bertindak sebagai supervisor.

 “Aduh…Mas, Putri  takut jadi bendahara, takut pegang uang.”

“Kenapa takut? Putri  kan kuliah di akuntasi, tentu sudah tahu bagaimana mencatat pemasukan dan pengeluaran uang. Kalau perkara uangnya ya… disimpan di bank. Putri  pegang uang seperlunya saja.”

Terlambat satu tahun, akhirnya gelar sarjana kehutanan dapat aku gapai. Tiga hari sebelum wisuda aku sudah jemput Simbok, aku kepengin menyenangkan Simbok melihat kota Yogya. Seumur-umur Simbok belum pernah keluar dari Cepiring. Hari pertama ke Pasar Beringharjo, pasar batik terbesar di Yogya. Aku minta tolong Putri  yang sudah terbiasa ke pasar untuk menemani Simbok.  Putri  dengan senang hati memenuhi permintaanku. Putri  dengan cepat akrab dengan Simbok.

“Ibu, pilih kain batik yang disenangi.” Putri  memanggilnya dengan sebutan ibu.

“Lha Simbok bingung, semuanya bagus-bagus.”

Aku paham sekali, pakaian Simbok hanya itu dan itu saja. Warna kain jarik dan kebayanya hampir semuanya sudah lusuh. Jadi melihat kain yang baru, di mata Simbok tentu bagus semuanya. Setelah putar-putar cukup lama, akhirnya Putri  yang memilihkannya, tiga pasang kain jarik, kebaya dan selopnya. Hari berikutnya, juga bersama Putri, Simbok aku ajak ke Gembiraloka, kebun binatang di Yogya. Simbok senangnya bukan main melihat berbagai binatang untuk pertama kali.  

Hari Wisuda itu datang atas undangan para wisudawan. Bertiga, aku, Simbok dan Putri  berangkat dari losmen lebih pagi. Sejak dari losmen,  aku sudah pakai baju wisuda :  baju putih lengan panjang, berdasi ditutup dengan jubah wisuda, slayer wisuda, topi wisuda  dan sepatu pantofel warna hitam.  Putri  memakai celana jean, kaos warna putih motif bunga melati , memakai  topi baseball cap dan sepatu kets. Aroma melati  menempel di tubuhnya, aroma favoritku. Sementara Simbok pakai kebaya baru yang dipilih Putri .

“Putri , tolong ya…, Simbok dijaga.”

“Baik, Mas.”

Berbagai kendaraan : delman, becak, sepeda motor, kendaraan roda empat dengan penumpang para wisudawan memadati jalan menuju Balairung UGM. Aku bersama Simbok dan Putri  lebih memilih menggunakan dua becak.  Masing-masing tukang becak aku beri lembaran uang berwarna merah.

“Mas ini kebanyakan.” Kata tukang becak.

“Tidak apa-apa, ambil saja.”

“Terima kasih, terima kasih.”

Berkali-kali kedua tukang becak tersebut mengucapkan terima kasih. Aku perhatikan uang tersebut diciumnya. Memang uang berwarna merah sangat berarti sekali bagi tukang becak. Aku sendiri pernah merasakan ketika mengalami kesulitan finansial. Jangankan uang yang berwarna merah, uang yang berwarna coklat saja sudah sangat berarti.

Balairung sudah dipadati para wisudawan, yang perempuan cantik-cantik, yang laki-laki gagah-gagah.  Entah berapa ratus wisudawan dari berbagai fakultas yang mendapat gelar sarjana satu, berapa puluh sarjana dua dan berapa sarjana tiga yang akan di wisuda. Suatu peristiswa bersejarah bagi wisudawan bersama keluarganya.

Selesai upacara pemberian gelar, aku bersama Simbok dan Putri  berfoto bersama. Simbok menatapku dengan mata tergenang, beberapa kali mencium kepalaku, mencium pipiku dengan penuh kasih.

“Juno lihat ke atas, Bapakmu tersenyum melihatmu sudah jadi tukang insinyur. Simbok sudah tenang, engkau sudah jadi tukang insinyur. Terus bagaimana dengan Dewi?”

“Simbok, Juno sudah lama pisah sama Dewi. Juno tidak berjodoh dengan Dewi, itu sudah takdir.” Memang aku tidak pernah menceritakan tentang Dewi, aku khawatir menjadi pikiran Simbok.

“Lha Putri  itu siapa?”

Putri  menatapku.

“Putri  teman Juno. Sekarang sedang kuliah, dua tahun lagi juga sudah jadi sarjana seperti Juno.

Aku lihat cukup banyak mahasiswa yang menyaksikan wisuda dengan jaket kebanggaan masing-masing fakultas, sekelompok mahasiswa mengenakan jaket khas fakultas kehutanan.

“Dik…, dik, tolong foto kami ya….”

“Eeee… Mas Juno. Selamat ya…, sudah jadi sarjana kehutanan. Teman-teman,  Mas Juno sudah jadi sarjana kehutanan!” teriaknya.

Para mahasiswa kehutanan yang sedang menyaksikan uparaca beramai-ramai mendatangiku.

“Selamat Mas Juno…., selamat Mas Juno. Kita tunggu undangan pernikahannya ya…”

“Mas Juno, Desy iri sama Mbak Putri  yang sudah menggandeng Mas Juno duluan. Desy kalah cepat.” Putri  memandangku dengan tersenyum, tangannya menggandeng semakin erat tanganku.

Mahasiswa kehutanan itu selalu kompak, mungkin paling kompak dibandingkan dengan mahasiswa dari fakultas lain. Mereka saling mengenal satu sama lainnya bukan hanya pada tingkat yang sama tetapi juga dengan adik dan kakak kelas.

“Mas Juno, nanti siapa yang mengganti asisten Dendrologi?” tanya salah satu diantaranya.

“Nanti pihak fakultas yang akan menentukan.”

“Waaah kita kehilangan Mas Juno. Desy dapat nilai A  mata kuliah Dendrologi berkat Mas Juno. Kenapa Mas Juno tidak jadi dosen saja?”

“Mas Juno akan focus bimbingan belajar dulu. Desy bisa ambil foto.”

Desy menggelengkan kepalanya.

“Ada yang bisa mengambil beberapa foto? Saya minta tolong.”

 “Bisa…, bisa Mas. Dijamin hasilnya pasti oke.” Kata salah satu mahasiswa kehutanan.

Aku mendokumentasikan hari bersejarah. Foto sendiri, foto berdua dengan Simbok, foto berdua dengan Putri, foto bertiga. Balairung UGM dan Fakultas Kehutanan menjadi tempat favorite pengambilan foto. Putri  begitu semangatnya mengatur foto berdua denganku.

“Mas Juno, Putri  dirangkul dong.”

“Mas Juno, Putri  digandeng dong.”

“Mas Juno tersenyum ya…, tatap wajah Putri .”

“Mas Juno, Putri  beri bunga ya…”

Ya…., ya….., sepertinya Putri  tidak kalah bahagianya.

Hari yang sangat membahagiakan, tapi sungguh aneh di sela-sela kebahagianku di sela keramaian para wisudawan, kedua hatiku berdebat sendiri.

“Kebagianku akan sempurna seandainya ya.. seandainya Dewi juga berada disampingku.”

“Juno, jangan suka berandai-andai, lupakan Dewi. Engkau jangan sekali-kali  mengundangnya dalam bayanganmu.”

“Aku sudah jadi sarjana kehutanan apakah Dewi mau bersanding denganku?”

“Juno, lupakan dan lupakan Dewi.”

“Bagaimana aku bisa melupakannya, karena dia lah aku jadi sarjana kehutanan.”

“Juno…, memang betul Dewi menjadi malaikatmu ketika engkau masih di SMA. Tapi bukakah engkau juga sudah menjadi malaikatnya ketika engkau menikahinya. Bukankah sudah impas?”

“Ini bukan masalah impas atau tidak impas. Dewi lah yang secara tidak langsung menjadikan aku menyandang gelar sarjana kehutanan.”

“Juno, engkau sendiri yang bilang bahwa Dewi itu milik ayah dan ibunya, bukan milik dirinya sendiri. Mungkin saja Dewi sudah bahagia memperoleh pendamping sesuai dengan keinginan ayah dan ibunya. Ingat Juno,  Dewi itu keturunan darah biru, ingat itu. Sedangkan engkau itu siapa? Engkau itu tidak lebih dari anak pembantu, ingat itu, engkau itu anak pembantu!”

“Apakah anak pembantu tidak boleh mencintai seseorang.”

“Ya…, boleh saja, tapi tidak dengan Dewi. Bukankah ada Putri ?  Meski Putri  tidak secantik Dewi, tapi Putri  penuh perhatian denganmu. Bukankan begitu?”

Perdebatan yang tidak berkesudahan antara hati kiri dan hati kanan, kalau tidak dikagetkan dengan suara Putri .

“Mas Juno, sekarang kita akan berfoto dimana lagi? Mas Juno ngelamun ya….? Mas Juno pasti nglamun Mbak Dewi ya….”

Entah pakai ilmu apa Putri  bisa menebak pergumulan yang ada di hatiku. Cepat-cepat Putri  aku gandeng, bersama  Simbok menuju  warung makan yang tidak berada jauh. (BERSAMBUNG)

—————————

Bogor 21 Agustus  2021

Kebun Raya Residence Blok F-23 , Ciomas; BOGOR 16610

Ditulis oleh:

Alumni 1973

BAMBANG WINARTO dilahirkan di Magelang pada tanggal 15 Juni 1954. Selesai mengikuti Pendidikan di SMA N Kendal 1973, ia melanjutka di Fahutan di IPB (1978). Karir di pemerintahan mulai berkembang setelah memperoleh gelar Magister Manjemen (MM). Karier tertinggi sebagai ASN sebagai Kepala Kanwil Kehutanan Provinsi Sulawesi Utara (2000). Pernah sebagai penulis non fiksi tentang kehutanan. KAMUS KEHUTANAN merupakan karya fenomenalnya yang menjadi pegangan para rimbawan. Saat ini menekuni penulisan cerita pendek (cerpen) dan puisi. Cerpen – cerpen yang ditulisnya di unggah pada web CERPENMU dan selalu menjadi nominasi cerpen terbaik setiap bulannya.

Tinggalkan Komentar

LANGGANAN

BULETIN KAMI