PEREMPUAN DI DINDING TRUK

PEREMPUAN DI DINDING TRUK

16 Apr 2023
2.452

 

Perlahan mentari  menuju ke peraduan setelah seharian memberikan kehangatan. Keindahan senja dengan warna jingganya telah berganti dengan keindahan sinar bulan dan kelap-kelipnya bintang – bintang. Dengan tambahan penerangan lampu petromax, Wawan pemilik bengkel mobil, masih mengawasi Ujang, Udin dan Dadang yang sedang menambal beberapa roda truk yang dikendarai Jajang.

Jajang memang sudah menjadi langganannya ketika kendaraannya mengalami masalah, apakah mesin atau rodanya.  Layaknya sopir truk pada umumnya, “yen ngaso mampir”, dia selalu cerita kalau tidurnya di penginapan kelas melati, murah meriah. Namun lebih dari itu, disitu pula ada yang dapat memberikan kehangatan.

“Wawan, lihat gambar perempuan itu?” Kata Jajang sambil menunjuk gambar perempuan di dinding truk.

“Cantik bukan?” Kata Jajang lebih lanjut.

Untuk memperjelas kecantikan gambar perempuan tersebut, petromax yang ada diambilnya dan didekatkan ke gambarnya.

Dheg… Sejenak ia tertegum, kaget melihat gambar yang sangat mirip dengan istrinya. Kendati pun demikian, kekagetannya hanya disimpan dalam hati. Bisa saja perempuan itu hanya wajahnya mirip dengan istrinya.  Apalagi dilihat pada malam hari yang hanya diterangi dengan sinar petromax, bisa saja sinar petromax menipu matanya. Namun, keraguannya sirna dalam sekejap ketika Jajang mengambil foto dari dompetnya dan memperlihatkannya foto perempuan itu dengan pakaian yang minim.  Antara percaya dan tidak percaya. Ya…., tidak salah. Itu istrinya, Ginah.  Berbagai perasaan teraduk dalam hatinya. Rasa marah, rasa sedih, rasa kecewa jadi satu. Istrinya yang kabur karena tidak tahan hidup bersamanya kini jadi perempuan penghibur lelaki yang haus akan kehangatan perempuan.

“Jajang, dimana engkau menemukan perempuan ini?”

“Kamu tertarik juga? Jika engkau ke Semarang, coba mampir di Gambilangu. Sebelum masuk Semarang ada pangkalan truk, di sebelahnya terdapat tempat untuk menghangat tubuh sekaligus istirahat. Tahu kan?”

Ingatannya menerawang tujuh tahun yang lalu, ketika ia masih hidup bersamanya.  Saat itu ia hanya sebagai kuli bangunan, sementara dia sebagai asisten rumahtangga dari keluarga Abdullah.

“Ginah, mau nggak kawin denganku.”

Ginah pun menganggukan kepala. Mereka berdua datang ke Kantor Urusan Agama mengutarakan maksudnya dan oleh petugas dipandunya ijab qobul dengan saksi – saksi yang ada dikantor tersebut. Perkawinan pun syah, mereka menjadi suami istri.

Kesulitan hidup mulai dirasakannya ketika mereka punya anak. Jangankan beli susu atau kebutuhan bayi lainnya, untuk kehidupan sehari-hari tambah susah. Ginah tidak sepenuhnya dapat bekerja sebagai asisten rumahtangga. Sementara,  pendapatannya sebagai kuli bangunan  cuma segitu-gitunya saja. Itu pun masih beruntung bila bosnya dapat borongan rutin, kalau  tidak dapat borongan, ia kerja serabutan, kerja apa saja. Akhirnya ia pindah sebagai asisten bengkel mobil sekaligus tambal ban. Pekerjaan yang lebih memberi kepastian pendapatan meski belum dapat mencukupi untuk kehidupan layak.

“Kang, utang di warung sembako sudah membengkak.”

“Ya…., sebentar, nanti kalau Akang sudah dapat rezeki.”

“Kang, Ginah heran melihat teman-teman sesama asisten rumahtangga mempunyai HP. Mereka sering memamerkan foto-fotonya, ngobrol sesama pembantu dari jauh. Ginah iri dengan mereka. Kang…, Ginah belikan HP ya….”

“Ginah, nanti ya…., kalau Akang sudah punya rezeki.”

“Dari dulu, kalau Ginah minta sesuatu jawabannya selalu nanti-nanti saja. Sampai Ginah mati jawabannya nanti-nanti saja.”

“Iya…, Akang belum dapat rezeki yang cukup.”

Esoknya, ia terkejut, ketika mengetahui dia pergi tanpa meninggal pesan. Hampir tiga bulan ia mencarinya, teman-temannya tidak ada satu pun yang mengetahuinya. Akhirnya ia putus asa. Pasrah.

Ternyata, setelah tujuh tahun keberadaannya terjawab dari orang yang tidak terduga. Dia berada di Gambilangu, tempat yang cukup jauh. Lebih menyakitkan ternyata dia menjajakan tubuhnya. Entah untuk apa uang yang diperolehnya.

“Jajang, kebetulan minggu depan saya akan ke Semarang. Saya akan mampir ke Gambilangu, kepengin merasakan hangatnya tubuhnya. Saya minta nama dan nomor HP nya.”

“Namanya Mona, nomor HP nya saya tranfer ya….”

Dalam hitungan kurang dari satu detik, nomor HP Mona masuk ke HP nya. Saat itu juga ia mencoba menelponnya.

Perlu tiga kali menguhubungi sebelum mendapat respon.

“Halo, Ginah.”

“Ginah? Siapa ya…, anda salah sambung.”

“Oh…., ma’af.”

Ternyata benar dia telah ganti nama. Namanya sudah nama  kekinian dibandingkan dengan nama Ginah yang memberi kesan nama ndeso. Ia pun menelpon kembali dengan memanggil nama barunya.

“Halo Mona, saya Wawan?”

“Wawan? Siapa ya…., saya merasa tidak kenal dengan nama Wawan.”

Clik. Telpon diputus.

Ia menyadari, sepertinya dia sudah tidak menghendaki kehadirannya. Sungguh pun demikian, ia bertekad untuk membawanya pulang, membangun kembali puing-puing rumhtangganya yang sudah hancur. Ia sangat yakin dia mau kembali, mau memelihara anaknya buah kasihnya yang kini sudah sekolah di kelas satu SD. Ia akan menerima dia apa adanya.  Ia sudah membelikan HP cukup bagus yang merupakan keinginannya sebelum kabur dari rumah. Pendapatannya sebagai pemilik  bengkel mobil cukup untuk hidup secara layak. Ia pun sudah mempunyai rumah RS yang dibeli dengan cara kredit.

Hari itu, ia berniat mengetahui keberadaannya. Dibelinya tiket bis kelas ekonomi tujuan Semarang. Kepada sang sopir, ia berpesan untuk diturunkan ke pangkalan truk Gambilangu.

“Gambilangu?”

“Ya…, Gambilangu?”

“Punya saudara di sana?”

“Saya lagi cari istri saya. Informasi yang saya peroleh dia berada di Gambilangu?”

“Jangan-jangan istri sampayen berada di rumah singgah. Tempat mampirnya para sopir dan orang-orang yang kesepian.”

“Informasi yang saya peroleh memang demikian.”

“Siapa namanya?”

“Saya dengar dia memakai nama Mona.”

“Tidak salah. Mona menjadi primadona tempat tersebut. Perempuan tersebut selalu jadi bahan pembicaraan para sopir. Saya juga penasaran dengar cerita teman-teman. Saya pernah kesana untuk membuktikannya. Benar apa yang diceritakan teman-teman. Selain kecantikannya juga pelayanannya prima. Saya menjadi ketagihan. Kalau ada uang berlebih,  saya ke sana. Sudah beberapa kali saya ke sana. Saya kurang paham, mengapa ia menjadi wanita penghibur. Padahal dengan bodi dan wajahnya yang aduhai  ia layak jadi istrinya pengusaha atau pejabat atau malahan menjadi silibriti.”

Mendengar cerita para sopir truk dan bis, tekadnya semakin kuat untuk memboyongnya kembali. Jarak dari Parung ke Semarang lumayan jauh. Berangkat pagi dan menjelang malam baru sampai Gambilangu.

“Mas sudah sampai Gambilangu. Tempatnya tidak jauh dari jalan besar.”

Turun dari bis, jantungnya berdetak. Seperti apa ya wajah Ginah? Apakah aku dapat mengenalinya? Kalau dia pasti mengenaliku, tidak ada perubahan berarti dari tubuhku.

Cahaya bulan dan bintang- bintang  menambah terangnya jalan yang dilaluinya. Ia mengikutinya beberapa orang lelaki menuju ke suatu tempat yang sama. Benar, tidak berapa lama ia sampai di pintu gerbang. Di bagian atas tertulis “Taman Firduas” disertai tambahan tulisan di bawahnya anak-anak tidak boleh masuk. Lima satpam yang badannya kekar-kekar menjaga di pintu gerbang. Ia berhenti di pintu gerbang.

“Baru pertama kali ya…., datang ke sini?” Kata salah satu satpam.

Ia menganggukkan kepalanya.

“Mas sepertinya dari jauh ya…?”

Kembali, ia menganggukkan kepalanya.

“Dari mana Mas?”

“Parung?”

“Parung? Di mana itu?”

“Di daerah Bogor.”

“Apakah di Bogor tidak ada tempat untuk menghangatkan diri?”

“Saya mencari istri saya.”

“O….ya?” Ada yang bisa saya saya bantu?”

“Saya mencari istri saya.” Kembali ia menegaskan.

“Nama aslinya Ginah, tapi menurut beberapa orang yang pernah ke sini, dia telah berganti nama menjadi Mona.”

“Jadi Mas mau ketemu Mona?”

“Ya…. Betul. Saya ingin ketemu dengannya.”

Satpam itu maju sambil mengulurkan tangannya.

“Pardi.”

“Wawan.”

“Mas Wawan, saya sampaikan aturan di Taman Firdaus. Mas Wawan akan menjumpai Mbak Mona, sayang sekali Mbak Mona sampai  tujuh hari ke depan tidak bisa dijumpainya.”

“Maksudnya?”

“Mbak Mona sudah ada yang pesan.”

“Jadi saya ke sini lagi tujuh hari yang akan datang?”

“Itu pun kalau Mbak Mona mau menerimanya.”

“Jadi bagaimana supaya saya bisa bertemu dengannya?”

“Baik nanti saya sampaikan ke Mbak Mona, apakah dia mau menerimanya atau tidak. Saya minta nomor HP sampayen saja.”

Badan Wawan terasa lemas, pikirannya tambah galau, untuk berjumpa dengannya saja harus antri menunggu sampai seminggu. Ia tidak menyangka sama sekali kalau Mona sudah menjadi orang penting melebihi pejabat. Dengan langkah gontai, malam itu juga, ia memutuskan untuk pulang ke Parung. Menginap di Gambilangu selama tujuh hari selain membuang uang juga sangat menyakitkan, mengetahui Ginah bermain cinta kilat dengan lelaki lain.

Satu minggu, waktu yang terasa lama. Setiap saat ia selalu membuka WA, berharap ada berita darinya atau satpamnya. Hari kelima ia menerima WA dari satpam Taman Firdaus yang memberitahu kalau pada hari ketujuh Ginah akan menelpon, kira-kira jam 09.00.

Pagi itu, tidak seperti biasanya ia sudah mandi dan berpakai rapi  layaknya akan menerima tamu penting. Sekitar jam 07.30, ia sudah berada di bengkelnya. Dilihatnya Ujang, Udin dan Dadang sedang memperbaiki angkot. Ia mendekatinya.

“Nanti ke warung sebelah.”

“Siap bos.”

Seperti biasa ia pesan secangkir kopi pahit dan makan kudapan kesukaanya, pisang goreng dan juadah bakar.

“Tumben bos, pakaiannya rapi, tidak seperti biasanya.” Kata Ujang.

“Ya…, mau terima telepon dari Ginah.”

“Kan orangnya nggak kelihatan bos.”

“Nggak kelihatan bagaimana, kalau dia telpon pakai video call, wajah kita akan kelihatan. Aku harus kelihatan rapi.”

Sebentar-bentar ia melihat jam tangan yang modelnya lumayan bagus.  Tepat jam 09.00, HP nya berbunyi. Ia agak pangling melihat wajahnya, sangat cantik, bak selebriti. Rambutnya, bagian atas berwarna hitam dan bagian bawahnya berwarna putih kekuningan, matanya berwarna biru. Namun ia sangat yakin kalau yang menelpon Ginah, dia punya tanda khusus berupa tembong kecil di pipinya.

“Halo Ginah.”

“Halo Kang Wawan.”

“Seminggu yang lalu saya ke tempat Ginah, tapi tidak diperbolehkan oleh satpamnya.”

“Ya…, satpamnya sudah memberitahuku. Kang Wawan, aku sudah bukan Ginah lagi. Aku sudah menjadi milik mami sepenuhnya. Jadwalku diatur sangat ketat olehnya. Aku hanya boleh menerima tamu yang sudah ditetapkannya.”

“Ginah, aku pengin membawamu kembali. Aku akan menerimamu apa adanya. Euis, anak kita sering menanyakanmu, dia sangat rindu kepadamu apalagi kalau lihat teman-temannya diantar oleh ibunya.”

“Kang Wawan, aku juga rindu kepada Euis dan juga kepada Kang Wawan. Ternyata kehidupan yang aku jalani tidak seindah yang aku bayangkan. Memang benar uang yang aku peroleh jauh lebih dari cukup, tapi aku bagai burung dalam sangkar emas.”

“Ginah, apakah mungkin aku membawamu kembali? Kehidupanku sekarang jauh lebih baik. Aku sudah mempunyai bengkel sendiri.”

“Kang Wawan, segeralah jemput Ginah, bawa uang yang cukup banyak untuk menebus Ginah.”

“Berapa uang yang harus saya siapkan?”

“Waah itu Ginah tidak tahu. Kang Wawan harus jumpa langsung dengan Mami.”

“Baik Ginah, saya akan menjemputmu secepatnya. Kita bangun kembali rumahtangga kita.”

Uang tabungan yang dikumpulkannya hari demi hari rasanya cukup untuk menebusnya.

Hari itu, ia begitu gembiranya. Satu koper kecil berisi bundelan uang merah telah disiapkan. Ia mencharter satu minibus untuk menjemputnya. Ujang diajaknya untuk berjaga-jaga bila ada sesuatu yang tidak diharapkan dan sekaligus untuk menjaga keamanan uang yang dibawanya.

Sampai di Gambilangu, ia langsung menuju ke Taman Firdaus. Ia agak terkejut ketika lima satpam yang menjaga di pintu gerbang berbeda dengan satpam yang pernah dijumpai satu minggu yang lalu.

“Pak Satpam, saya ingin jumpa Mona.”

“Mona?” Jawab salah satu satpam.

“Iya betul, Mona sudah janji dengan saya.”

“Mas, di sini tidak ada perempuan yang bernama Mona.”

“Ya.., nggak mungkin, tiga hari yang lalu, kami ngobrol, Mona itu istri saya yang dulunya bernama Ginah. Dia sudah bersedia kembali untuk menjadi istri saya lagi.”

“Mas…, siapa namanya?”

“Wawan.”

“Mas Wawan, saya tegaskan di sini tidak ada perempuan yang namanya Mona. Coba lihat dan baca daftar penghuni Taman Firdaus.”

Satpam itu menyerahkan daftar penghuni kepadanya. Ia membaca dan menatap fotonya satu persatu. Beberapa kali ia baca, memang benar tidak ada nama dan foto Mona.

“Pak Satpam, bagaimana kalau saya ketemu Mami.”

“Baik, mari saya antar.”

Mereka berdua berjalan menuju ke salah satu rumah yang terpisah dari deratan rumah-rumah penghuni Taman Firdaus.

“Mami, ada tamu yang pengin ketemu, sepertinya ada sesuatu yang ingin disampaikan.”

“Mari Mas silahkan duduk.”

Ia melihat sepintas orang yang disebut mami. Kecantikannya masih terpancar dari wajahnya. Usianya mungkin sekitar lima puluhan. Ia pun duduk pada kursi yang ditunjuknya. Ruang tamunya tidak terlalu besar tetapi tertata rapi. Pada dinding terpasang foto-foto perempuan cantik dengan berbagai pose yang cukup menantang.

“Ada apa ya… Mas sampai  kepengin ketemu saya. Saya, mami disini. Mas boleh panggil saya mami juga. Kalau saya panggil Mas apa ya…”

“Terima kasih Mami mau menerima saya. Saya, Wawan dari Parung. Saya mencari istri saya, di sini dia memakai nama Mona. Satu minggu yang lalu saya ke sini tapi tidak diperbolehkan ketemu dengannya. Tiga hari yang lalu kami sempat ngobrol via HP, dia bersedia kembali untuk menjadi istri saya. Kalau diperbolehkan akan saya bawa pulang. Saya sudah siapkan uang untuk biaya ganti ruginya.”

“Mas Wawan, saya baru tiga hari menjadi mami di sini menggantikan mami terdahulu. Sepertinya perempuan yang bernama Mona tidak ada di sini. Coba saja lihat deretan foto-foto perempuan di dinding itu, apakah ada perempuan yang Mas cari.”

Ia pun berdiri dan berjalan menuju didinding yang memamerkan foto-foto perempuan Taman Firdaus. Di tatapnya satu persatu foto dengan cukup lama. Pengalaman bicara dengannya  melalui HP, wajahnya sangat berbeda dengan aslinya. Akhirnya ia menyerah setelah menatap masing-masing foto dua kali.

“Bagaimana Mas, apakah ketemu perempuan yang dicari?”

Ia kembali duduk dengan lesu. Sungguh tidak masuk akal. Apakah dia dibawa Mami terdahulu karena menjadi primadona di sini?

“Mami kalau boleh tahu, kemana Mami terdahulu pindahnya?”

“Mas Wawan, mohon ma’af saya tidak boleh menyebutkannya.”

Cling.., bunyi HP nya. Dilihatnya dari Mona. Dengan ketergesaan dibukanya WA nya.

“Mas Wawan, tiga hari yang lalu aku dibawa Mami pindah ke kota lain. Aku tidak tahu kota apa, kotanya sangat besar dan ramai. Aku belum boleh bepergian.”

“Dari siapa Mas?”

“Dari Mona, dia cerita dibawa Mami terdahulu ke  kota besar. Dia tidak tahu di kota mana. Apa yang harus saya lakukan?”

“Mas Wawan, lupakan Mona. Saat ini Mona menjadi primadona. Mas Wawan tidak mungkin menebusnya. Mungkin lima atau tujuh tahun lagi Mas Wawan baru bisa menebus.”

Ia pun pulang dengan lunglai. Kehidupan rumahtangga yang akan dibangunnya hilang tertiup angin begitu saja.

Lima tahun kemudian, sebuah truk mampir ke bengkelnya untuk mengganti rodanya. Di dinding truk tergambar perempuan dengan nama Lisa yang wajahnya mirip dengan Mona dan di bawahnya tertera nomor HP yang bisa di hubungi.

“Halo Lisa, ini dari Mas Wawan.”

“Wawan? Saya tidak kenal dengan Wawan.”

Ia pasrah.

———–

Kebun Raya Residence – Ciomas – BOGOR, 30092022

Ditulis oleh:

Alumni 1973

BAMBANG WINARTO dilahirkan di Magelang pada tanggal 15 Juni 1954. Selesai mengikuti Pendidikan di SMA N Kendal 1973, ia melanjutka di Fahutan di IPB (1978). Karir di pemerintahan mulai berkembang setelah memperoleh gelar Magister Manjemen (MM). Karier tertinggi sebagai ASN sebagai Kepala Kanwil Kehutanan Provinsi Sulawesi Utara (2000). Pernah sebagai penulis non fiksi tentang kehutanan. KAMUS KEHUTANAN merupakan karya fenomenalnya yang menjadi pegangan para rimbawan. Saat ini menekuni penulisan cerita pendek (cerpen) dan puisi. Cerpen – cerpen yang ditulisnya di unggah pada web CERPENMU dan selalu menjadi nominasi cerpen terbaik setiap bulannya.

Tinggalkan Komentar

LANGGANAN

BULETIN KAMI