Para Pencuri
Sungguh tidak terduga, bahwa di acara REUNI EMAS ada pencuri yang cara mencurinya sangat halus dan tidak terduga sama sekali. Aku tidak tahu apakah teman-teman merasa ada sesuatu yang hilang atau tidak. Tapi aku merasakannya. Bukan pada saat acara reuni, tetapi setelah acara selesai dan sampai di Bogor.
Aku sangat menikmati sekali acara reuni, apakah pada malam hari atau pada saat tour satu hari di Kota Lama dan Kelenteng Sam Poo Kong. Kedua nya di kemas sempurna, semua yang hadir merasakan kegembiraan, terlibat emosional dalam setiap acara, terlibat sebagai pelaku, apakah menyanyi, baca puisi atau acara lainnya.
Hadiah dan souvenir berlebih, jauh melebih teman-teman yang hadir. Makanan berlimpah baik dari hotel apalagi dari teman teman yang membawa makanan khas daerahnya masing-masing.
Sebagai Ketua Panitia, aku sungguh bangga kepada seluruh panitia, namun ada dua tokoh yang kerjanya tidak biasa. Sangat luar biasa, yang tidak perlu aku sebutkan namanya karena teman teman tentu sudah tahu semua.
Menurutku, waktu satu malam dan setengah hari rasanya kurang. Dan itu juga, disampaikan beberapa teman.
“Mbang Win, waktu reuni terasa singkat. Aku belum sempat ngobrol dengan teman-teman semuanya yang hadir.” Kata Nurul.
“Win, baiknya waktu dtambah satu hari lagi.” Kata Dirno.
Aku sependapat dengan Nurul dan Dirno. Rasa rindu yang tidak berjumpa cukup lama karena covid-19 ditambah mereka datang dari jauh merupakan alasan utama.
Selesai reuni, aku masih menginap satu hari di Kendal. Ngobrol dengan adik yang juga sudah lama tidak jumpa. Saat itu aku masih merasa tidak ada yang hilang.
Namun, sesampainya di Bogor, kala malam menjemput, ada sesuatu yang hilang. Ya….., aku merasa lemes, tenagaku tinggal separoh. Bukan hanya itu hatiku juga tinggal separoh. Aku tidak tahu siapa yang mencuri. Tapi dugaanku yang sangat kuat ada tiga pencuri hatiku. Yang pertama orangnya berada di Ngaliyan. BAKMI KERABAT telah mencuri hatiku melalui lezatnya bakmi yang diraciknya. Yang kedua, yang membaca puisiku yang berjudul “MENGGAPAI RINDU”. Membacanya penuh dengan penjiwaan. Dan yang ketiga adalah yang mengajakku naik becak di Kota Lama. Matanya berbinar ketika naik becak. Mungkin sudah lama tidak merasakan nyamannya naik becak atau karena AKU YANG JADI TUKANG BECAKNYA.
Ya…., ya…., mereka bertiga telah membuat konspirasi untuk mencuri hatiku. Semoga mereka segera sadar dan segera pula mengembalikan hatiku yang dicurinya.
—————
Kebun Raya Residence 23 Ciomas – Bogor. 26 Juni 2022