DI BAWAH NAUNGAN POHON TABEBUYA (Part 1)

DI BAWAH NAUNGAN POHON TABEBUYA (Part 1)

Pagi itu aku berangkat ke kampus relatif lebih pagi. Bukan karena ada kuliah, tetapi lebih kepengin melihat danau SDGs secara sepintas. Berselancar sejenak di internet sebelum berangkat, aku baru mengetahui kalau danau tersebut merupakan salah satu tempat dari tujuh  spot menarik yang berada di Kampus Darmaga IPB. Enam spot menarik lainnya adalah : gedung kuliah, taman konservasi,  telaga inspirasi,  museum dan galeri IPB future,  koin IPB dan  taman inovasi.

“Juno, selamat ya…, Professor Andri telah mempercayaimu sebagai asistennya.” Kata Joni.

“Terima kasih.”

Joni, teman kuliah dan sekaligus sahabatku. Kepandaiannya kategori rerata. Namun dalam perkara cewek, “ seeng ada lawan” kata orang Ambon. Setahuku paling tidak Joni sudah ganti cewek tiga kali. Wajahnya memang ngganteng bak bintang sinetron ditambah lagi dengan kendaraan roda dua dan  roda empat yang berkelas. Sebagai anak tunggal pengusaha batu bara sepertinya kemewahan Joni layak diterimanya.

“Juno, di sekitar danau SDGs, cukup bahyak pepohonan dibandingkan dengan pepohonan yang berada di ARBORETUM Fahutan. Satu bulan yang lalu aku bersama Ida ke sana menikmati indahnya danau. ” Kata Joni.

Memang betul aku dipercaya Professor Andri untuk membantu mata kuliah DENDROLOGI terutama urusan praktikum. Saat itu aku sedang menghadap beliau untuk konsultasi masalah skripsi. Sebenarnya penyusunan skripsi masih semester depan, tapi aku sudah mempersiapkan sejak dini dengan harapan dapat lulus lebih cepat. Bukankah lebih cepat lebih baik?

“Ada perlu apa Juno.”

“Konsultasi skripsi Prof.”

“Kapan skripsi dimulai?”

“Semester depan Prof.”

“Sudah ada rencana judul skripsi?”

“Sudah Prof. Judul sementara “Pengenalan Jenis Pohon Melalui Drone”.

“Lokasinya dimana?”

“Di Kampus Prof.”

“Bagus. Judul yang tepat “Pengenalan Jenis Pohon Melalui Drone di Kampus Darmaga”. Judul harus dibatasi, harus jelas lokasinya.

“Terima kasih Prof.”

“Disekitar danau SDGs cukup banyak pepohonan. Sangat bagus kalau pengenalan jenis pohonnya termasuk yang berada disekitar danau SDGs.”

“Siap Prof.”

“Juno, kamu bantu aku ya… Nilai dendrologimu sangat bagus. Aku perlu asisten untuk praktikum .”

“Siap Prof.”

“Tugas pertama, para mahasiswa diwajibkan membuat herbarium. Satu mahasiswa satu  herbarium. Jenis tanamannya hanya yang berasal dari Kampus Darmaga.”

“Siap Prof.”

Mendengar informasi dari Prof. Andri dan Joni, tentu saja menggembirakanku, aku akan segera melakukan orientasi untuk menentukan kegiatan selanjutnya. Kurang gaul memang salah satu kelemahanku, selalu  ketinggalan infomasi perkembangan kampus. Aku terlalu sibuk dengan bacaan yang berhubungan dengan dendrologi. Pepatah yang mengatakan “semakin membaca semakin tidak tahu” ternyata benar adanya.

Sepeda motor aku parkir ditepi jalan dekat danau SDGs. Jalan  sekitar 13 meter sudah ketemu ke titik point yang berupa “plaza kecil”,  tidak  luas tapi tertata rapi.    Suasana masih sepi, hanya terlihat satu penjual minuman ala kadarnya. Ia sedang sibuk mempersiapan dagangannya, yang  menandakan bahwa danau SDGs ada pengunjungnya atau mungkin akan ada acara pada hari ini.

Berdiri sejenak ditepi “plaza kecil”,   mengamati secara sepintas danau dan sekitarnya. Danau tidak terlalu luas mungkin sekitar tiga perempat hektar. Ditengahnya  terdapat tanaman teratai yang sedang memamerkan keindahan bunganya. Sepasang angsa putih berenang dengan anggunnya diikuti oleh tiga  anaknya mengintari danau. Berbagai cuitan suara burung terdengar dengan riangnya. Aku lihat ada  jalan setapak  mengelilingi danau. Di sebelah kiri danau terdapat pohon tabebuya dengan warna bunga  merah sedangkan disebelah kanan pohon tabebuya dengan warna bunga kuning. Alangkah indahnya. Bagian atas danau terdapat berbagai tanaman yang cukup rimbun, berupa pepohonan,  tanaman perdu dan tanaman bawah. Ekosistem sempurna.

Tidak terlalu lama berdiri di tepi danau, segera aku ayunkan kakiku menelusuri  jalan setapak mengelilingi danau. Di ujung jalan terpasang papan nama dengan warna dasar hijau dan tulisan putih JALAN ANTIME.  Di kiri dan kanan jalan setapak terdapat pohon tabebuya. Pada bagian bawah pohon terdapat papan nama yang menginformasikan nama pohon baik nama daerah, nama ilmiahnya, nama penanamnya dan  tanggal penanaman. Tulisannya masih terbaca dengan jelas meski papan namanya sudah agak lapuk. Papan yang sudah saatnya dan ditempelkan pada bagian pohon sehingga langsung diketahui oleh pengunjung. Pada bagian atasnya selalu tertulis ANTIME. Nama yang aneh. Jangan – jangan salah tulis bukan ANTIME tetapi ANTI ME. Tapi…, kalau ini lebih aneh lagi. Beberapa para penanam pohon seperti  : Rektor IPB, Dekan Fakultas Pertanian, Dekan Fakultas  Perikanan dan Ilmu Kelautan, Dekan Fakultas  Kehutanan dan Lingkungan Hidup.

Berjalan keliling di jalan setapak tidak memerlukan waktu lama. Aku taksir panjang jalan sekitar 750 meter. Pada ujung jalan setapak terlihat dua bangku berwarna putih. Sebelum duduk, aku lihat di bagian atas bangku juga tertulis ANTIME.  Dugaanku sementara, ANTIME merupakan nama alumni IPB entah alumni tahun berapa. Nanti malam aku akan bertanya kepada mbah google, mudah mudahan informasi ANTIME  dapat terjawab. Sungguh, aku penasaran dengan nama ANTIME. Istirahat sejenak di bangku ANTIME di bawah pohon tabebuya. Pohon dengan bunga indah itu,  canopynya tidak cukup rimbun untuk memberi naungan dari sinar matahari seperti halnya pohon beringin.  Pagi yang indah. Sinar  sinar mentari memberikan kehangatan melalui celah-celah pohon yang coba meutupinya. Namun, rasa haus sudah mulai menjalar di tenggorokanku.

“Mang, tolong kopi panas tanpa gula  satu dan air meniral botol kecil satu juga.” Aku berteriak kepada mamang penjual minuman.

Tidak perlu waktu lama, mamang penjual minuman sudah mengantarkan minuman yang aku pesan.

“Mamang,  apakah ada yang membeli?”

“Ada neng, sebentar lagi ada acara pertemuan mahasiswa.”

“Mahasiswa dari mana?”

“Waaah, kalau itu mamang tidak tahu.”

Memang benar, satu persatu mahasiswa mulai berdatangan. Umumnya mereka menggunakan sepeda motor. Aku agak terkejut sekaligus surprise ketika dua mahasiswi berjalan menuju ke arah bangku.

 “Mas boleh duduk disini?”

“Silahkan. Bangku kosong untuk siapa saja.”

Keduanya cantik-cantik.  Entah  mengapa  jantungku berdegup cukup keras ketika melihat salah satunya. Wajahnya, mengingatkan akan bintang iklan shampo, Maudy Ayunda. Kecantikannya silahkan dinilai sendiri. Sementara mahasiswi satunya wajah dan bentuk tubuhnya mirip Desy Ratnasari, kecil mungil. Penyanyi yang melijit dengan lagu “Tenda Biru”, cukup terkenal tahun sembilan puluhan.

Dengan keberanian yang aku paksakan aku dekati kedua mahasiswi tersebut. Aku ingat betul pelajaran dari Joni .

“Juno kalau kamu naksir cewek, langsung saja dekatin, berkenalan, tukar nomor HP dan selanjutnya terserah kamu.”

Memang sejak putus dengan Dewi, pacarku saat di SMA, aku tidak tertarik dengan wanita.  Aku merasa ditelikung olehnya ketika ia selingkuh dengan mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Semarang. Selain itu, aku selalu ingat pesan ibu sebelum berangkat ke Bogor.

“Juno, Ibu pesan, di Bogor kamu hanya belajar saja. Jangan dulu pacaran. Nanti setelah lulus terserah kamu.”

“Baik Bu.”

Sebenarnya ada beberapa mahasiswi adik kelas, Susi tingkat satu, Tutik tingkat  dua yang mencoba mendekatiku. Berbagai alasan dikemukakan, pinjam catatan, minta diajari, ngajak jalan-jalan  dan berbagai alasan lainnya. Namun tidak ada getaran dihatiku.

“Kenalkan, saya Juno dari Fakultas Kehutanan dan Lingkungan Hidup”

“Saya Euis  dari Fakultas Perikanan dan Kelautan.”

“Saya Iin , juga dari Fakultas Perikanan dan Kelautan. Kami sama sama satu angkatan. Saat ini masih tingkat satu.”

“Saya semester enam.”

“Wooow, keren. Sebentar lagi jadi Sarjana Kehutanan donk. Euis  akan panggil Mas Juno ya….. Lebih enak rasanya. Mas Juno jauh lebih senior .”

“Iin  juga akan panggil Mas Juno.”

“Euis  ada acara apa, pagi-pagi sudah ke danau?”

“Acara perkenalan dengan para senior.”

“Asyiiik.”

“Terus kalau Mas Juno ngapain sendirian pagi-pagi sekali sudah berada di sini?” Kata Euis  lebih lanjut.

“Cerita singkatnya, Mas Juno dipercaya sebagai asisten dosen dari Bapak Profesor Andri, dosen Dendrologi.”

“Wooow, tambah keren. Terus?’

“Tugas utamanya membantu beliau dalam hal pratikum.”

“Praktikum kehutanan kok di danau.”

“Euis  itu nggak sabaran. Mata pelajaran Dendrologi itu pelajaran tentang pohon, lihat di atas sana banyak pepohonan. Nanti, para mahasiswa semester empat praktikum membuat HERBARIUM setiap pohon yang ada di Kampus Darmaga.”

“Apakah Euis  dan Iin  tahu herbarium?”

“Pernah dengar sich …. Kalau aquarium Euis  tahu.”

“Herbarium itu  suatu koleksi spesimen tumbuhan yang diawetkan berikut informasi yang menyertainya yang digunakan untuk keperluan penelitian ilmiah. Para mahasiswa nanti mengambil daun diawetkan. Dengan melihat daun yang telah diawetkan, kita akan tahu jenis pohonnya.”

“Sekarang sedang melakukan orientasi pertama. Paling tidak perlu dua  kali kunjungan untuk mempersiapkannya.”

“Wooow, asyik sekali.”

“Iya…., kuliah di kehutanan memang asyik. Mau pindah ke Fakultas Kehutanan?”

“Emangnya boleh?”

“Ya…, nggak tahu.”

Kami ngobrol sebentar tentang kehidupan mahasiswa, tentang Kampus Darmaga dan obrolan ringan lainnya.

“Mas Juno, sebentar lagi acara  akan dimulai. Euis  tinggal ya…atau Mas Juno mau ikut acara Euis .”

“Okey, terima kasih. Kebetulan Mas Juno ada janji di  fakultas.”

Pertemuan pertama yang mengesankan. Berkenalan dengan gadis cantik yang mampu membuat jantungku bergetar. Nomor HP kedua gadis sudah aku simpan. Tentu, aku akan sering kirim pesan atau malahan telpon terutama kepada Euis .

Malamnya, aku searching  di internet akan arti  ANTIME. Hanya satu informasi yang aku peroleh : “ANTIME was a Japanese dance and vocal boy group formed in July 2017. They stopped their activities in August 2018.” Jelas ini tidak ada hubungannya dengan ANTIME yang aku cari. Aneh juga dizaman digital nama ANTIME tidak aku temukan di internet. Kesimpulan sementara ANTIME alumni IPB angkatan senior yang sudah gaptek IT. Rasa penasaran tetap menyertaiku, aku yakin informasi ANTIME akan aku peroleh setelah data penanam pohon aku peroleh.

“Hai…Euis, Senin depan Mas Juno akan danau lagi melanjutkan persiapan praktikum. Jika tidak ada kuliah, mau nggak temani Mas Juno.” Kataku via WA.

“Asyiik…. Kebetulan Euis  kuliahnya siang. Nanti Euis  dengan Iin  ya….”

“Okey, terima kasih. Kita ketemu sekitar jam 7 pagi. Jangan lupa pakai pakaian lapangan ya…”

“Okey.”

”Yes…., yes….., yes….” teriakku sambil mengepalkan tangan ke atas.

Aku memang berencana meminta bantuan Euis  dan Iin  mencatat pohon yang ada papan namanya.  Aku sudah buatkan tally sheet berupa tabel sederhana yang berisi : nomor, nama pohon baik nama lokal maupun nama latinnya dan nama penanamannya. Aku yakin dengan bantuan mereka pekerjaan pencatatan pohon secara sederhana akan selesai lebih cepat. (bersambung).

———————-

Ditulis oleh:

Alumni 1973

BAMBANG WINARTO dilahirkan di Magelang pada tanggal 15 Juni 1954. Selesai mengikuti Pendidikan di SMA N Kendal 1973, ia melanjutka di Fahutan di IPB (1978). Karir di pemerintahan mulai berkembang setelah memperoleh gelar Magister Manjemen (MM). Karier tertinggi sebagai ASN sebagai Kepala Kanwil Kehutanan Provinsi Sulawesi Utara (2000). Pernah sebagai penulis non fiksi tentang kehutanan. KAMUS KEHUTANAN merupakan karya fenomenalnya yang menjadi pegangan para rimbawan. Saat ini menekuni penulisan cerita pendek (cerpen) dan puisi. Cerpen – cerpen yang ditulisnya di unggah pada web CERPENMU dan selalu menjadi nominasi cerpen terbaik setiap bulannya.

Tinggalkan Komentar

LANGGANAN

BULETIN KAMI