DI BAWAH NAUNGAN POHON TABEBUYA (Part 2)
Dengan pakaian lapang : celana jean, kaos lengan panjang disertai topi rimba, aku sudah berada di danau sekitar jam 6.30. Aku harus datang terlebih dahulu, takut kalau Euis dan Iin mencariku. Sekitar 6.50 keduanya datang dengan berkendaraan sepeda motor. Euis memakai celana jean, kaos warna putih motif bunga melati dibalut dengan jaket warna coklat muda, pakai topi baseball cap dan sepatu kets. Aroma melati menempel di tubuhnya, aroma favoritku. Sepertinya, aku dan Euis mempunyai chemestry yang sama soal parfum. Sementara pakaian lapang Iin hampir sama hanya saja kaos yang dikenakan berwarna merah muda. Iin rupanya senang dengan parfum aroma mawar.
“Euis .., aduuh cantiknya. Bak bidadari tanpa sayap.”
“Mas Juno itu, pagi-pagi sudah merayu, nggak nyangka Mas Juno diam-diam pandai merayu.”
“Bener, wajah Euis itu mirip Maudy Ayunda, bintang iklan shampo itu lho…”
“Iiih…, kalau muji Euis nggak kira-kira. Kalau Iin mirip siapa?”
“Kalau Iin mirip Desy Ratnasari. Penyanyi lagu “Tenda Biru”, yang cukup terkenal tahun sembilan puluhan. Ingat kan?”
“Mas Juno itu bener-bener jago ngrayu, Iin merasa tersanjung.”
“Euis dan Iin, Mas Juno sudah persiapkan tally sheet nya, tinggal mencatat : nomor, nama pohon baik nama lokal maupun nama ilmiah dan nama penanamnya seperti yang tertera pada papan nama. Paham?”
“Paham Mas.” Jawab mereka hampir bersamaan.
“Nanti sekitar jam 10.30 kita akhiri. Kalau belum selesai kita lanjutkan minggu depan.”
“Baik Mas.”
Aku berjalan paling depan untuk membuka rerimbunan semak belukar dan memberi nomor pohon. Sementara Euis dan Iin bergantian mencatat pohon yang telah aku beri nomor. Pencatatan pohon pertama sampai dengan yang kelima agak lama namun pencatatan selanjutnya semakin cepat. Sesuai dengan perkiraanku pekerjaan tidak selesai, perlu waktu paling tidak sekali lagi. Untuk sementara data yang sudah dikumpulkan aku simpan dulu.
“Euis dan Iin terima kasih banyak, minggu depan bantu sekali lagi ya…. Bagaimana kalau kita ngebakso dulu. ”
“Asyiiik ….. Ngebakso dimana Mas.”
“Ya…, terserah Euis saja, apakah di kampus saja atau kita keluar kampus.”
“Di Kampus saja Mas, ada warung bakso yang cukup enak dengan harga mahasiswa. Namanya Warung Bakso Pink, karena memang dinding warungnya berwarna pink. ” kata Euis .
Kembali aku merasakan kurang gaul. Aku yang sudah lebih lama di kampus ternyata tidak tahu ada adanya warung bakso pink. Warna pink yang cukup menyolok menurutku agak aneh. Warungnya cukup bersih, tempat duduknya relatif banyak. Duduk bertiga, pesan mie bakso dan minuman.
“Euis, Iin pesan minuman apa?”
“Teh botol Mas, pakai es.” Kata Euis
“Kalau aku es jeruk.” Kata Iin
Pengunjungnya lumayan banyak, seratus persen mahasiswa. Sayang aku tidak mengenal mereka satu pun.
“Euis mungkin tahu kenapa warungnya berwarna pink?”
“Nggak tahu Mas, mungkin untuk mengesankan warungnya untuk remaja, atau hanya untuk memudahkan pengunjung saja.”
Memang baksonya enak, kenyal dan lembut di mulut, kuah daging sapi sangat terasa. Demikian pula mie nya lembut, ditambah saos tomat dan sambal, rasanya tiada duanya.
“Mas Juno, untuk apa jenis pohon yang sudah di data?”
“ Itu salah satu kegiatan utama di kehutanan yang disebut inventarisasi hutan. Sebenarnya data yang diperlukan lebih detail lagi seperti tinggi pohon, diameter pohon, tajuk pohon, anakan pohon, tumbuhan bawah disekitarnya dan informasi lainnya. Nanti mahasiswa kehutanan yang akan melakukannya.”
“Euis dan Iin, terima kasih banyak telah membantu Mas Juno, nampaknya kita masih perlu sekali lagi ke lapangan.”
“Iya… Mas, yang penting jangan lupa nanti ngebakso lagi.” Kata Euis .
“Okey tuan putri , jangan khawatir.”
Pencatatan yang kedua jauh lebih cepat. Euis dan Iin nampaknya sudah mulai biasa melakukannya. Alhamdulillah…., inventarisasi pohon secara sederhana selesai dilakukan.
Malam itu, aku lihat sepintas daftar tabel yang telah diisinya. Total ada 125 pohon yang terdiri dari 26 jenis pohon. Sementara, nama penanamnya ada 49 orang.
Kembali aku searching untuk mengetahui tentang ANTIME, akhirnya ketemu juga. ANTIME merupakan singkatan dari Angkatan Anti Kemewahan, nama Angkatan 11 di IPB.
Tidak terasa hubunganku dengan Euis sudah memasuki bulan kelima. Apakah aku telah jatuh cinta kepadanya? Jujur aku katakan ya…, dan aku pun yakin kalau Euis punya perasaan sama seperti perasaanku.
Besok itu ulang tahunnya, tanggal yang datang hanya satu tahun sekali.
“Euis besok pagi ketemu di danau ya…..”
“Jam berapa Mas.”
“Seperti biasa jam 7. “
“Ada acara apa Mas.”
“Ada dech…”
Ya……, besok Euis ulang tahun yang ke 18. Aku sudah mempersiapkan hadiah istimewa untuknya. Hadiah itu, aku buat sendiri berupa bunga tabebuya warna merah dan kuning yang sudah diawetkan dan dibingkai dalam pigura.
“Euis hari ini, tanggal kelahiranmu. Terima lah hadiah dari Mas Juno, hadiah istimewa yang akan selalu mengingatkan kita berdua saat pertemuan pertama. Silahkan diterima dan buka.”
“Woooow…., indah sekali!”
Tangan mungilnya aku gemgam. Aku tatap wajahnya. Alangkah cantiknya.
“Euis …, I love you.”
“Mas Juno…, I love you too.”
Aku tatap matanya, aku cium keningnya. Pohon tabebuya dan juga bangku ANTIME menjadi saksi bisu percintaanku dengan Euis. Semoga cinta keduaku menjadi cinta terakhir.
“Euis, lihat sepasang angsa putih yang sedang berenang dengan anggungnya. Alangkah damainya. Tiga anaknya berenang mengikuti kemana pun induknya berenang.”
“Iya…., damai sekali.”
“Euis …, nanti Mas Juno juga kepengin punya anak tiga.”
“Bagaimana Euis?”
“Euis menurut saja.”
Hari-hari selalu ceria, mendung sepertinya tahu diri, pergi jauh dariku. Hampir setiap malam minggu atau hari minggu atau hari libur kami pergi berdua, apakah disekitar kampus, di kota Bogor atau tempat tempat rekreasi di sekitar Jabodetabek. Acara yang tidak pernah terlewatkan menonton film tiga dimensi yang diputar khusus untuk mahasiswa IPB. Dalam satu minggu, film diputar tiga kali, dua kali berkisar tentang dunia ilmu pengetahuan dan satu kali tentang kehidupan remaja di kampus. Malahan, mahasiswa Fakultas Kehutanan dan Lingkungan Hidup diwajibkan menonton film yang berhubungan dengan bidang studinya. Film tentang dunia satwa, tumbuhan, atau pengetahuan lingkungan lainnya tidak pernah aku lewatkan.
“Euis , siang nanti apakah ada kuliah?”
“Tidak Mas.”
“Kita nonton film tiga dimensi Hutan Tropika ya…”
“Dimana?”
“Ya…, di Kampus Darmaga.”
“Nonton film siang hari?”
“Iya…, film tentang dunia pengetahuan di putar siang hari sedangkan film kehidupan remaja di kampus di putar malam Minggu. Jangan lupa kartu mahasiswanya di bawa. ”
“Untuk apa Mas.”
“Ya… untuk dapat masuk ruangannya.”
Rupanya fasiltas baru ruang pemutaran film belum tersosialisasi secara merata di kalangan mahasiswa. Ruangannya berada pada salah satu gedung IPB yang didesain khusus untuk pemutaran film tiga dimensi mampu menampung mahasiswa sekitar 150 orang.
Melihat film tiga dimensi hutan tropika di Kalimantan sangat indah sekali sekaligus memprihatinkan.Ekosistemnya sangat menakjubkan apakah keragaman satwanya, keragaman tumbuhannya, sungai dengan jeram-jeram dan bahkan masyarakatnya. Sayang, sebagian hutannya telah mengalami degradasi karena berbagai hal. Penyumbang terbesar adalah penebangan liar, alih fungsi hutan, kebakaran hutan dan eksploitasi hutan serta penambangan batubara.
“Euis , indah bukan filmnya?”
“Ya…, indah sekali, kapan film tentang perikanan dan kelautan di putar?”
“Nanti Mas Juno monitor.”
Melihat film yang di putar aku sempat berpikir, apakah kuliah tatap muka masih diperlukan?
Waktu berjalan tiada mengenal lelah. Hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun. Proposal skripsi dengan Judul “Pengenalan Jenis Pohon Melalui Drone di Kampus Darmaga” telah mendapat persetujuan Prof Andri.
“Juno, apakah pohon yang berada di Kampus Darmaga sudah teridentifikasi?”
“Sudah Prof.”
“Bagus, coba pelajari lebih detail bagaimana susunan tajuk masing masing pohon.”
“Siap Prof.”
Perkembangan teknologi yang pesat memungkinkan drone menggantikan pesawat udara dalam inventarisasi hutan. Drone merupakan alat bantu yang efektif dan effisien, dapat terbang rendah, mengambil pemotretan dari berbagai sudut dengan biaya yang relatif murah.
Jenis pohon di sekitar danau SDGs sudah lengkap. Areal ini aku jadikan uji coba. Hasilnya memuaskan. Jenis pohon dapat terdeteksi 100% dengan benar. Dengan demikian, penggunaan drone untuk seluruh areal di Kampus Darmaga dapat dilakukan sesuai dengan tujuan penelitianku.
“Juno, skripsi ini bagus. Dapat dikembangkan lebih lanjut untuk areal yang lebih luas, areal hutan rakyat atau malahan areal pengusahaan hutan.”
“Siap Prof.”
Aku dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan. Not so bad. Sebenarnya aku berharap lulus dengan predikat cumlaude.
Hari wisuda itu pun datang. Acara yang dinanti mahasiswa, menandakan mahasiswa yang bersangkutan sudah dapat menggunakan gelar sarjana yang diperolehnya. Wajah penuh senyum menyertainya. Ayah, ibu dan bahkan keluarga mendampinginya. Tentu suatu kebanggaam bagi orang tua dan keluarganya.
Namun, kegembiraan itu tidak sepenuhnya aku rasanya. Ayah dan ibuku karena usia dan kesehatannya tidak memungkinkan hadir. Begitu pun dengan kakakku yang selalu menjaga ayah dan ibu.
“Selamat Juno atas keberhasilan memperoleh gelar sarjana kehutanan. Semoga cepat dapat kerjaan.” Kata kakakku.
“Terima kasih Mas. Sampaikan sungkem untuk ayah dan ibu.”
Hanya Euis satu-satunya yang menemaniku menjelang sampai acara wisuda.
“Selamat ya…. Mas. Kini sudah dapat menyandang gelar sarjana kehutanan.”
“Terima kasih Euis .”
“Acara resmi sudah selesai. Kita mau kemana Mas?”
“Mas Juno mau ke danau SDGs.”
“Nggak salah Mas. Nanti dikira orang aneh, pakaian wisuda ke danau.”
“Ya…, biarin saja. Aku ingin mengenang sejenak pertemuan pertama kita.”
“Euis , kita jalan keliling danau ya….”
Aku genggam tangan mungilnya menyusuri jalan setapak, Jalan Antime keliling Danau SDGs. Pada spot spot tertentu kami berfoto ria.
Di bawah naungan TABEBUYA yang tidak terlalu rimbun daunnya kami berhenti sejenak. Aku lihat wajahnya, aku tatap matanya.
“Euis, I love you so much ”
“Mas Juno, I love you so much too.”
——————
TAMAT
——————