SEPASANG ALBUM KEMBAR
Bermula dari saran Agus, teman satu Kabupaten Kendal sekaligus teman satu Fakultas Pertanian-IPB. Agus berasal dari Kecematan Weleri, semetara aku dari Cepiring. Agus ambil Jurusan Sosial Ekonomi sementara aku ambil Jurusan Agronomi. Bersama dengannya, aku tinggal satu asrama di Asrama Sukasari, salah satu asrama IPB yang berada di jalan Sukasari. Kala itu aku mengalami kesulitan keuangan untuk menyelesaikan pendidikan di IPB yang hanya tinggal satu semester lagi. Orangtuaku sudah tidak mampu lagi membiayaiku. Aku bersyukur mendapat Beasiswa Supersemar dari Pak Harto sebesar Rp. 12.500,- per bulan. Meski demikian, beasiswa tersebut jauh dari mencukupi. Biaya kehidupan di Bogor lumayan tinggi.
“Juno, kamu kan tinggal menyusun skripsi saja. Waktumu bisa digunakan untuk memberi les siswa SMA.”
Betul juga saran Agus. Aku memberi les dalam pelajaran kimia, fisika dan matematika pada siswa kelas 2 dan kelas 3 SMA di Bogor. Lumayan banyak siswa yang mengikutinya. Masalah keuangan teratasi, bahkan dengan uang yang aku peroleh, aku dapat meningkatkan makanan yang lebih bergizi, tidak melulu mie dan mie saja.
Dewi Agustini salah satu gadis kelas 3 SMA 1 Bogor yang memerlukan jasaku dalam memahami pelajaran kimia, fisika dan matematika. Dewi, gadis Bogor yang logat Sundanya mulai luntur. Wajahnya mirip Widyawati kala remaja, artis yang sukses dalam film “Pengantin Remaja” bersama Sophan Sopian. Ia cantik alami, tanpa make up, kulit mulus dan bersih. Ia yang ramah, ceria, suka lalapan dan asinan Bogor. Ia termasuk siswi yang cerdas, apa yang aku ajarkan dengan mudah disimpan dalam memorinya.
“Dewi, setelah lulus SMA akan melanjutkan kuliah dimana?”
“Di IPB Mas. Fakultas apa yang sebaiknya Dewi ambil?”
“Semua fakultas baik siih. Tapi menurut Mas Juno, Dewi cocok ambil Fakultas Mekanisasi dan Teknologi Pertanian. Nanti ambil jurusan Teknologi Pangan. Mas Juno perhatikan pelajaran kimianya sangat bagus.”
Kala aku berkunjung ke rumahnya, orangtuanya menyambutku dengan ramah.
“Oh…, ini Nak Juno ya…, terima kasih atas bimbingannya kepada Dewi. Tahun depan Dewi kepengin kuliah di IPB juga.” Ya…, itulah awal perkenalan dengan orangtua Dewi. Sepertinya, orangtuanya tidak melarang aku menggandeng tangan mungilnya.
“Dewi, bagaimana kalau malam Minggu nanti kita nonton film “Cintaku di Kampus Biru.” Dari resensi yang aku baca, film tersebut dapat bintang 5, bintang filmnya, Roy Marten, Rae Sita dan Yati Octavia.”
Ia mengangguk, hatiku bagai bunga mekar. Itulah pertama kali aku mengajaknya nonton film. Malam Minggu yang kunanti datang tanpa aku jemput. Bak bidadari, Ia memakai celana jean, kaos warna putih motif bunga melati dibalut dengan jaket warna coklat muda, pakai topi baseball cap dan sepatu kets. Aroma melati menempel di tubuhnya, aroma favoritku. Hujan rintik-rintik, menambah suasana romantis. Kami bergandengan tangan menyusuri jalan Pajajaran di bawah naungan pohon kenari. Sesekali aku rangkul pundaknya. Sebuah bemo, kendaraan roda tiga khas Bogor, menepi menghampiri. Sepertinya sang sopir tahu kalau aku berdua akan menuju gedung bioskop Sukasari, bioskop terbaik di kota Bogor.
“Sukasari?”
Aku lihat tidak ada penumpang.
“Bang, saya charter ke bioskop Sukasari.”
Duduk berdua, berhadapan, lututku berada dengan lututnya, maklum tempat duduk bemo sempit. Aku gemgam kedua tangannya, aku tatap wajahnya. Alangkah cantiknya.
“Iiih….., kenapa Mas Juno pandang Dewi terus.”
“Habis Dewi cantik siiih, seperti bidadari. Ini kesempatan Mas Juno memandang Dewi sepuasnya.”
“Emangnya Mas Juno pernah lihat bidadari?”
“Pernah, lha ini yang di depan Mas Juno kan bidadari.”
“Mas Juno itu pintar merayu.” Dewi mencubit lenganku dengan pelan.
Sampai di bioskop Sukasari, penonton yang sedang antri sangat banyak, terutama para remaja. Aku pesan karcis duduk di deretan kursi paling belakang di ujung kanan.
“Dewi ….” teriak temannya yang bergandengan dengan pacarnya.
“Hai…., Agi.” Jawab Dewi .
“Dewi…., aku iri sama yang nggadeng kamu!” Teriak teman laki-laki Dewi.
Dengan bergandengan tangan aku dan Dewi memasuki gedung bioskop yang suasananya gelap. Kursi penonton penuh, full fouse. Selama film berputar, Dewi menggandeng tanganku dengan lembut. Ketika ada adegan yang romantis, Dewi mencekeram tanganku dengan kuat. Aku lihat wajahnya, aku tatap matanya dalam kegelapan. Dewi menatapku juga. Dengan jantung berdebar, aku memberanikan diri mencium keningnya, mencium rambutnya dan berakhir mencium bibirnya. Dewi pun membalas dengan lembut, matanya terpejam.
“ Ah….., Mas Juno nakal.” Dewi mencubit tangaku dengan pelan. Itulah ciuman pertamaku dengan seorang gadis. Aku catat dalam buku harianku, 15 Juni 1977.
——————–
Hari yang tidak aku harapkan datang tanpa diundang. Aku menerima surat darinya, isinya sangat pendek.
“Mas Juno, kita jumpa di kafe Mahatani jam 13.10.”
Jam sudah menunjukkan 13.10, Dewi belum juga keluar dari ruang kuliah fisika. Sudah 20 menit aku menunggu di kafe, satu -satunya kafe di IPB. Kafenya kecil, bersih, namun agak mahal untuk kantong mahasiswa. Sekitar jam 13.15, aku lihat Dewi keluar dari ruang kuliah dan langsung menuju ke kafe. Suasana kafe sepi, hanya aku dan dia .
“Dewi mau minum apa?”
“Teh manis hangat saja Mas.”
Untuk sejenak Dewi diam. Aku lihat wajahnya muram, matanya agak sembab, sepertinya menahan tangis. Pasti ada sesuatu. Dewi adalah gadis ceria, gadis manja. Setelah agak lama diam.
“Mas Juno, kayaknya hubungan kita sampai di sini saja.” Suaranya tersendat. Air mata yang menggenang, akhirnya tumpah. Dewi, menangis tanpa suara, wajahnya ditutupi sapu tangan. Kepalanya menunduk ke bawah, bagai orang bersalah. Aku masih kurang paham, kenapa tiba-tiba ia berkata seperti itu. Tidak ada angin tidak ada hujan. Hubunganku dengannya selama ini baik – baik saja.
“Maksud Dewi , hubungan kita putus? Memangnya kenapa?”
“Kalau kita berlanjut ke jenjang perkawinan, tidak akan langgeng. Mas Juno orang Jawa dan saya orang Sunda.”
“Aku nggak paham. Tapi kenapa orangtuamu membiarkan kita menjalin kasih selama ini?”
“Ini…, sudah menjadi keputusan orangtuaku, Mas. Mumpung hubungan kita belum terlalu jauh.”
Malamnya, aku ke rumahnya, untuk bertemu dengan orangtuanya.
“Nak Juno, hubungan Nak Juno dengan Dewi, sudah Bapak dan Ibu rundingkan dengan matang. Bukan hanya Bapak dan Ibu, tetapi juga melibatkan saudara-saudara. Kesimpulannya jika hubungan Nak Juno dan Dewi tetap dilanjutkan, tidak akan langgeng. Nak Juno orang Jawa dan Dewi orang Sunda. Tidak baik bagi Dewi , tidak baik juga bagi Nak Juno. Ini sudah suratan takdir.”
Bunga-bunga cinta yang telah tumbuh dan bersemi di hatiku, rontok dalam sekejab. Aku bagai jatuh kedalam jurang tanpa dasar. Sangat menyakitkan. Sebagai mahasiswa yang dididik secara rasionalitas, apa yang disampaikan ayah Dewi tidak masuk akal.
——————-
Selama beberapa bulan aku mengalami shock. Skripsi yang sedang aku susun terbengkelai. Nasehat ibuku ternyata benar. Sebelum berangkat ke Bogor ibu sudah wanti-wanti.
“Ingat Juno, di Bogor kamu hanya belajar untuk menjadi insinyur pertanian. Jangan pacaran dulu. Kalau perkara jodoh sudah ada yang menentukan.“
Hari – hari berlalu dengan suram. Awan mendung selalu menyertaiku. Foto kenangan bersama Dewi, aku lihat kembali. Duduk berdua di atas banir pohon shorea, menyeberang di jembatan gantung Kebun Raya Bogor, makan asinan Bogor di Pasar Gembrong, bergandengan tangan di sepanjang jalan Pajajaran, naik delman keliling Kebun Raya Bogor, duduk di bawah pohon randu raksasa IPB, bergaya di depan Gedung IPB dan beberapa foto lainnya. Album aku tutup, aku masukkan dalam koper, aku kunci rapat-rapat. Entah kapan aku berani membukanya.
——————-
Malam itu, ketika sedang makan mie rebus dan minum kopi di ruang makan asrama, Agus menghampiriku.
“Juno, aku perhatikan suara mesin tikmu tidak pernah terdengar lagi. Selama beberapa bulan, kamu murung. Apa ada masalah?”
Aku diam agak lama.
“Agus …, hubunganku dengan Dewi putus.”
“Putus? Kenapa?”
“Hubunganku putus untuk suatu alasan yang tidak masuk akal. Orangtua Dewi tidak menyetujui gara-gara aku orang Jawa dan Dewi orang Sunda.”
Agus memandangku dengan penuh iba.
“Juno, pernah dengar perang Bubat?” Perang antara kerajaan Majapahit dengan Kerajaan Sunda?”
Aku menggelengkan kepala. Memang dari dahulu, aku tidak tertarik dengan pelajaran sejarah.
“Ini, cerita singkatnya. Bermula dari utusan Majapahit yang mengantarkan surat lamaran kepada Maharaja Linggabuana, Kerajaan Sunda, untuk menyunting putri mahkota Dyah Pitaloka. Lamaran diterima dengan suka cita. Majapahit adalah kerajaan besar, menguasasi hampir seluruh wilayah Nusantara kecuali daerah Pasundan. Maharaja Linggabuana dan rombongan membawa Dyah Pitaloka ke Majapahit. Rombongan tiba di Bubat, tidak jauh dari ibu kota Kerajaan Majapahit. Gajah Mada, patih Majapahit yang terikat dengan Sumpah Palapa meminta Maharaja Linggabuana takluk kepada Majapahit dan menyerahkan putrinya sebagai upeti, untuk dijadikan selir. Sementara Maharaja Linggabuana, hanya mau menyerahkan putrinya sebagai permaisuri. Maka, terjadilah pertempuran yang tidak seimbang. Maharaja Linggabuana, beserta para pengawalnya gugur. Dyah Pitaloka bunuh diri.”
“Terus apa hubungannya denganku?”
“Ya…., sebentar, cerita belum selesai.”
“Prabu Niskalawastu Kencana, putra Maharaja Linggabuana menggantikan ayahnya sebagai raja. Dia memerintahkan rakyatnya untuk tidak menikah dengan orang Majapahit, orang Jawa. Makanya larangan pernikahan antara orang Jawa dan Sunda masih berkembang hingga sekarang.“
“Juno, orangtua Dewi , sepertinya masih percaya dengan mitos perang Bubat.”
——————-
Alhamdulillah. Akhirnya, meski terlambat hampir satu tahun, aku dapat meraih gelar insinyur pertanian. Ibu dan bapak sangat bangga, bersuka cita. Aku satu satunya orang yang berhasil menyandang gelar insinyur pertanian di desaku.
“Juno, apakah sudah punya calon.” Tanya ibuku.
“Belum Bu.”
“Bagaimana kalau Ibu jodohkan dengan putrinya Pak Camat?”
“Saya masih ingin sendiri Bu.”
Bayang-bayang Dewi masih setia mengikuti kemanapun aku pergi. Tiga tahun berikutnya, aku tidak berani menolak keinginan ibu.
“Juno, Ibu kepengin menggendong anakmu. Bapak dan ibu sudah melamar putrinya Pak Camat, Putri namanya.”
Aku sebenarnya juga sudah tahu tentang Putri. Cepiring itu kota kecil, kala aku SMA kelas 3, dia masih kelas 1 SMP.
“Juno…., nanti kamu akan cinta dengan sendirinya. Witing tresno jalaran soko kulino. Dulu Ibu sama bapak juga langsung dinikahkan. Sampai sekarang ya… tetap langgeng.”
——————-
Hari berjalan tanpa lelah, hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun. Dua puluh tujuh tahun telah berlalu tanpa terasa. Seiring berjalannya waktu, bayang-bayang Dewi semakin lama semakin kabur dan akhirnya hilang bagai tertiup angin.
Minggu itu, ketika sedang berjemur matahari di halaman rumah.
“Ayah…, ada tamu gadis cantik mencari ayah.” Kata Topan, anakku.
“Gadis cantik? mencariku? Siapa ya…?”
Dheg….., aku lihat gadis cantik mengingatkanku akan seseorang, gadis remaja yang usianya sekitar usia Topan. Aku lihat gadis tersebut membawa sebuah album. Bentuk dan warnanya sama persis seperti album yang aku miliki.
“Selamat pagi Om, Saya Ira, putrinya Ibu Dewi .”
Dewi? Nama ini begitu familiar bagiku, aku coba mengingatnya, apakah Dewi mantan kekasihku?
“Saya dan Ibu tinggal di Bogor. Ibu sudah lama berpisah dengan ayah. Saat ini Ibu sedang berbaring di Rumah Sakit Kanker Dharmais, Jakarta. Sakitnya yang sudah cukup lama, kanker stadium 4. Ibu sering mengigau, menyebut nama Om Juno.”
Aku lihat mata Ira berkaca kaca, kepalanya menunduk, menyembuyikan kesedihan.
“Pesan Ibu, Om diminta untuk melihat album ini.” Ira menyerahkan album kepadaku.
Ketika aku buka albumnya, ternyata dugaanku tidak keliru. Dewi, mantan kasihku. Foto-foto di album sama persis seperti foto-foto di album yang aku miliki. Foto hitam putih yang usianya sudah puluhan tahun. Bentuk album dan warnanyapun sama. Bahkan urutan foto-foto yang dipasang di album juga sama. Kala itu, setiap foto selalu dicetak 2 lembar, satu untukku dan satu untuknya. Foto-foto di lekatkan pada album saat memadu kasih di bawah naungan pohon randu raksasa IPB.
“Om, Ira sangat terima kasih sekali kalau Om berkenan menengok Ibu saat ini. Ira takut, permintaan Ibu tidak terpenuhi, kepengin ketemu sama Om Juno” Ira terisak, air matanya mengalir.
“Topan ….! Kita ke Rumah Sakit Kanker Dharmais.”
Sampai di Rumah Sakit Kanker Dharmais, aku, Ira dan Topan bergegas masuk ke kamar Mawar. Dewi tergolek lemah. Matanya terpejam.
“Ibu…., ini Om Juno, Ibu…., ini Mas Topan, putra Om Juno .”
Dewi membuka matanya, melihatku, melihat Topan dengan tatapan kosong. Aku tatap matanya, aku pegang tangannya. Matanya berbinar ketika dapat mengenaliku. Dipegangnya tanganku dengan erat, ditempelkan di dadanya.
“Mas Juno …, ma’afkan Dewi …” Suaranya pelan sekali hampir tidak terdengar. Aku mengetahui ucapannya dengan melihat mimik bibirnya. Air matanya mengalir membasahi pipi.
“Mas Juno …, ada satu permintaan, tolong Ira, anakku.” Suara semakin lemah.
“Baik Dewi , Mas Juno berjanji ……, akan menjaga Ira.” Kataku di dekat telinganya.
“Terima kasih …, Mas Juno. Terima kasih.” Matanya tertutup, wajahnya tersenyum.
Aku bisikan ditelingannya kalimat tauhid , Lā ilāha illallāh, Lā ilāha illallāh, Lā ilāha illallāh. Sepertinya, Dewi mendengar dan menirukannya, detak jantungnya pun berhenti.
“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Selamat jalan Dewi , selamat jalan kasih, semoga ibadahmu di terima Allah SWT dan dosa dosamu di ampuniNya. Doaku menyertaimu.“ Air mataku mengalir tanpa bisa aku cegah.
Ira memeluk ibunya, cukup lama, menangis tanpa suara, kemudian memelukku.
“Terima kasih Om Juno, terima kasih Mas Topan. Ibu tersenyum, sangat bahagia. Keinginan terakhinya terpenuhi.” Matanya merah, air matanya masih membasahi pipinya.
——————-
“ACUNG….., “ Teriak cucuku , sambil berlari menuju ke arahku, minta gendong.
“A…, KUNG.”
“A…., CUNG.”
Cucuku yang pertama. Sangat lucu, menggemaskan. Perempun, cantik. Usianya sudah dua tahun tapi bicaranya masih cadel. Wajahnya mirip Dewi, ibunya Ira. Oleh Topan diberi nama Dewi Yuniani. Tiga tahun yang lalu, Topan menikah dengan Ira. Keduanya saling mencinta.
“Ayah, ini foto Topan dan Ira di Kebun Raya.”
Aku lihat beberapa foto Topan dan Ira. Duduk berdua di atas banir pohon shorea, menyeberang di jembatan gantung Kebun Raya Bogor dan foto-foto lainnya persis seperti fotoku bersama Dewi. Alangkah bahagianya mereka.
“Ayah, besok kita berfoto seperti yang ada di album.” Kata istriku.
“Ya…, ya…, ya…., meski sudah tidak muda lagi tapi ya… tidak mengapa.”
Ternyata larangan perkawinan orang Jawa dengan orang Sunda hanya mitos yang masih dipercayai sebagian masyarakat Jawa Barat.
——————-
Bogor 1 Juli 2020
Kebun Raya Residence Blok F-23 , Ciomas; BOGOR 16610