PELUKAN SESAAT

PELUKAN SESAAT

Beberapa kali mata kananku kedutan. Suatu firasat yang memberitahu akan terjadi sesuatu padaku dalam waktu dekat. Aku sudah khawatir sesuatu yang buruk akan terjadi. Pengalaman masa masih kecil, kedutan mata kanan berarti sesuatu yang tidak menyenangkan akan terjadi dan sebaliknya kedutan mata kiri berarti sesuatu yang menyenangkan. Firasat itu  sudah hilang puluhan tahun yang lalu sejak aku mengalami kecelakaan yang cukup berat. Alhamdulillah, ternyata kedutan pada mata kananku membawa berita yang menggembirakan.

Kriiiing……, aku lihat layar HP, terlihat wajah Dewi.

“Hei Dewi….”

“Hello Juno….”

“Juno, aku dapat undangan dari Mbak Nunik  untuk acara  reuni emas angkatanmu. Kata Mbak Nunik, ini atas permintaanmu.”

“Ya…, betul. Aku rindu berat denganmu.”

 “Tapi aku tidak menginap.”

“Nggak apa-apa, yang penting aku dapat memelukmu.”

“Ah…, Juno, itu sudah masa lalu.”

Dua bulan sebelum acara reuni emas,  aku ditunjuk sebagai ketua panitia oleh Nunik, ketua angkatan di SMA. Memang ia sudah terbiasa berorganisasi sejak SMA. Di organisasi OSIS SMA, ia  menjadi seksi penggalangan dana. Ia  pula yang menginisisasi terbentuknya himpunan alumni yang betujuan untuk mempererat silaturahmi sesama alumni. 

Sempat aku tanyakan kepadanya, mengapa aku yang ditunjuknya,  mengingat aku bukan pengurus lagipula aku berkedudukan di Bogor. Aku tahu diri, aku bukan siapa-siapa dalam kepengurusan, hanya sebagai anggota secara otomatis.  

“Pokoknya kamu saya tunjuk, teman-teman yang lain tidak bersedia .”

“Siap ketua. Dua  permintaanku. Pertama, Dewi tolong diundang dan dimasukkan dalam group WA kita dan yang kedua saat reuni kita panggil teman-teman hanya namanya saja seperti saat di SMA, tanpa embel-embel yang lainnya.”

“Setuju. Untuk Dewi jangan khawatir, aku kenal baik dengannya, nanti saya undang khusus.”

Dewi, bidadari tanpa sayap yang diturunkan bukan untukku. Ia  adik kelasku, salah satu mantan pacarku di SMA. Entah kenapa wajahnya tiba-tiba sering muncul di depanku. Diantara mantan, ia lah yang paling sering menghiasi wajahku. Ia  cinta pertamaku tapi ia  pula yang meninggalkanku tanpa aku ketahui penyebabnya. Melalui secarik kertas yang aku terima dari Nuril, ia  hanya bilang “Juno, kita putus, jangan tanya apa penyebabnya.” Sebagai lelananging SMA aku juga gengsi untuk menanyakannya. Aku sempat shock beberapa hari. Beberapa gadis yang pernah aku tolak cintanya mengejekku.

“Juno, aku siap menggantikan Dewi.” Kata Ratih.

“Juno, aduh kasihan dech dicerai sama Dewi.” Kata Ida.

Reuni emas diselenggarakan di salah satu hotel bintang tiga di Semarang untuk memberikan suasana keakraban dan kenyamanan. Sempat aku khawatir dengan tarifnya yang lumayan mahal untuk ukuran kantong sebagian alumni. Beruntung ada beberapa teman yang berbaik hati menjadi donatur. Waktu yang dipilih bukan  malam Sabtu dan malam Minggu, selain dapat menekan biaya juga penghuni hotel relatif sepi.

“Juno, nanti kita berangkat bersama ke hotel. Kamu jemput aku dulu di rumah. Kamu harus merasakan bakmi buatanku.” Kata Nunik.

“Siap!”

Rupanya, Nunik  buka warung bakmi. Garasi di depan rumahnya disulap jadi warung bakmi dengan nama BAKMI KERABAT. Kala aku sampai di rumahnya, beberapa orang sedang menikmati bakmi kerabatnya.

“Hai… Juno.”

Ia menatapku agak lama, aku pun menatap matanya. Terlihat butiran air bening menempel di matanya. Cukup lama kami tidak bertemu sejak reuni perak, dua puluh lima tahun yang lalu di Jakarta. Aku akan memeluk terlebih dahulu takut salah, aku “KALAH AWU”. Setelah puas menatapku, ia  memelukku cukup lama.

 “Juno, terima kasih telah datang ke tempatku.”

Suaranya sangat pelan, mungkin menahan jatuhnya air mata. Aku pun membalas pelukannya. Sungguh pelukan yang tidak terlupakan.

Aku salut kepadanya dalam usia yang sudah lanjut masih mempunyai kegiatan yang produktif. Bakmi Kerabat buatannya sungguh lezat. Kata orang Ambon “ SEEENG ADA LAWAN”, kata orang Kendal “EUUNAK MENI RA…” . Apa yang diceritakan teman-teman yang telah menikmati bakmi kerabatnya benar 100%.

Bersama Nunik  datang lebih awal di hotel untuk  mempersiapan acara nanti malam. Mengatur sejenak di ruangan pertemuan, selanjutnya pindah ke ruang depan menyambut teman-teman yang sudah mulai berdatangan. Mengenali teman-teman, terutama yang dulunya berbeda jurusan ternyata tidak gampang. Ada tiga jurusan di SMA kala itu, aku memilih jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), dua jurusan lainnya Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dan Budaya.

“Hai Pandu.”

“Hai Juno”

Kami berpelukan sesaat. Pandu merupakan salah satu teman dekatku, sama-sama ambil jurusan IPA, teman belajar, bermain  dan berpetualangan saat libur. Aku tahu siapa pacarnya, ia  pun tahu siapa pacarku.  Ia langsung duduk di sebelahku. Berdua kami ngobrol yang sangat biasa, apalagi kalau bukan obrolan  tentang cucu, anak, pekerjaan, masa sekolah di SMA dan obrolan ringan lainnya.

Beberapa teman terutama dari jurusan Sosial dan Budaya tidak dapat aku kenali lagi,  banyak yang sudah lupa bukan hanya namanya tetapi juga wajahnya.

“Juno…, siapa diriku?”

Aku tatap wajahnya, aku perhatikan postur tubuhnya. Kalau dari jurusan IPA jelas bukan. Mungkin dari jurusan Sosial atau Budaya.

“Juno, aku dari SD, SMP sampai SMA bareng karo sampeyan kok bisa lupa.”

Sejenak aku putar memoriku, kala SD, SMP dan SMA.Ya.. aku baru ingat sekarang.

“Yuli?”

“Iya aku Yuliyanto.”

Ya…, Yuliyanto, teman sejak SD sampai SMA, teman olah raga terutama bola voli. Dulu tubuhnya kecil dan pendek dan bahkan hari pertama masuk SMA masih memakai celana pendek. Kini berubah 180 derajat, badannya tinggi besar.

Lain lagi teman wanita yang baru datang.

“Hallo Juno.”

Ia langsung mendekapmu sambil berbisik.

“Juno siapa diriku?”

Kembali memoriku aku putar  ke lima puluh tahun yang lalu saat di SMA.

“Aduh…., mohon ma’af, siapa ya…”

“Juno, aku Yayuk. Dulu dari jurusan Budaya.”

“Hai Yayuk.”

“Juno, saat SMA aku naksir kamu lho.”

“O.. ya?”

“Tapi cewek-cewek yang naksir kamu banyak, aku mundur, kalah cantik.”

“Yayuk,  kamu itu ada-ada saja.”

Tidak terlalu lama, seorang wanita dengan suara lantang berteriak.

“Juno…!”

Aku perhatikan, ternyata Nuril. Wajahnya tidak berubah banyak, demikian pula gayanya. Kalau bicara ceplas ceplos. Ia temanmu dari kelas satu sampai kelas tiga di SMA. Kalau berangkat sekolah sambil baca buku pelajaran atau catatan dengan  rambut selalu basah. Teman – teman memberi julukan clurut. Ia murid terpandai di kelasku atau malahan terpandai di SMA.

“Hai Nuril…!”

“Juno, peluk.”

Aku peluk sesuai permintaannya.

“ Peluk yang erat dan pegang bagian punggungku.”

Pada bagian punggung terasa ada besi tipis yang melindungnya.

“Juno yang keras itu besi pelindung tulang punggungku. Tiga bulan yang lalu aku jatuh di kamar mandi. Namanya tulang tua, terjadi keretakan di tulang belakang. Beruntung langsung tertangani dengan baik. Sekarang kondisinya sudah 90% sembuh.”

“Syukurlah.”

“Piye Dewi teko ora?”

“Janjinya ia  akan datang.”

Nuril teman dekat Dewi meski beda kelas. Rumah mereka berdekatan. Ia  yang mengantarkan suratnya Dewi kala menyatakan putus denganku.

Alumni yang datang cukup banyak, beberapa diantaranya datang bersama pasangannya. Senang rasanya bertemu dengan teman lama. Pelukan sesaat selalu aku lakukan kepada para alumni.

Acara dimulai dengan makan malam bersama diiringi lantunan musik jadul, tahun 1970 an. Sajian  makan malam yang menggugah selera untuk sementara  aku tunda. Sebentar-sebentar aku lihat pintu masuk hotel.

“Juno sepertinya gelisah, nunggu Dewi ya…?” Kata Nunik.

“He…,he…, he…., Nunik itu tahu aja.”

Beberapa kali aku tengok pintu hotel sampai terlihat wanita setengah berlari menghampiriku.

“Juno…!”

Aku pun segera mengenalnya dari suara dan juga dari postur tubuhnya. Aku berdiri secara spontan, berjalan setengah berlari juga. Wanita itu merentangkan kedua tangannya, aku pun merentangkan kedua tanganku pula. Kami berpelukan. Wanita itu, memelukku cukup erat. Aku pun memeluknya tidak kalah eratnya.

“Juno…,” bisiknya.

“Dewi…,” bisikku.

“Dewi…, parfum aroma bunga melati mengingatkanku  saat kita bergandengan tangan.”

“Juno…, kamu selalu mengingatkan masa lalu.”

Darahku mengalir lebih cepat. Jantungku berdegup cukup keras, dheg…, dheg…, dheg… Hatiku pun menambah ramai suara suasananya, ser…, ser…, ser… Sudah puluhan tahun jantung dan hatiku tidak pernah memperdengarkan suaranya, kini bersuara dengan riuhnya. Apakah suara itu juga ada padanya? Aku tidak tahu, tapi ia  mendengar suara degup jantungku.

“Juno, jantungmu bergetar cukup keras.” Ia  menatap mataku.

“Juno, detak jantungmu menular ke jantungku.” Katanya menambahkan.

Setelah agak reda getaran keduanya, aku gandeng  tangannya menuju ke tempat makan. Kami makan bersama di tempat yang agak terpisah. Berdua cerita bukan saja tentang anak, tetapi juga cerita tentang masa indah bersamanya kala di SMA.

“Dewi, kanapa kita dulu pisah ya…?”

“Juno, kenapa ya…, aku sudah melupakannya. Tapi, aku merasa bersalah kepadamu. Itu, masa terindah dalam hidupku. Aku masih ingat kala rekreasi ke Kedung Pengilon, kita kejebur bersama saat akan menangkap ikan di pinggir kedung. Aku masih ingat kala menonton film “Kejar Daku Kau Kutangkap”, kau menggandengku dengan mesra dihadapan teman-teman yang juga nonton film tersebut. Aku masih ingat kala engkau menggendongku di Curug Sewu saat aku sudah kecapaian.”

 “Dewi, aku kira engkau sudah melupakannya.”

“Ah…, Juno, aku tidak akan pernah melupakannya. Terutama kala engkau menciumku pertama kali di bawah pohon mangga. Juno…, kenangan itu menari-nari kala aku mengingatmu. Semuanya telah aku catat dan simpan dalam buku harian yang ada dalam hatiku.”

“Dewi, nanti kita nyanyi bersama ya…”

Aku yakin ia akan setuju dengan tawaranku. Dulu ia sering ikut nyanyi setiap ada kegiatan SMA. Suaranya lumayan merdu.

“Lagu apa?”

“Bagaimana kalau lagu “Setangkai Anggrek Bulan”. Iramanya gampang dan syairnya cukup bagus.”

“Aku nggak hafal syairnya.”

“Nanti ada catatannya, yang penting iramanya hafal, oke?”

Dewi menganggukan kepalanya.

Acara reuni dimulai agak sedikit terlambat. MC dipercayakan kepada Mbak Dian  dan Mas Joko, keduanya  penyiar radio swasta lokal. Mereka pasangan serasi dalam mengatur ritme suasana malam reuni. Panitia juga menyediakan penyanyi lokal untuk meramaikan suasana, Dini namanya. Orangnya cantik dan  suaranya cukup merdu.

Sebagai ketua panitia, aku diberi kesempatan cukup banyak naik ke atas panggung : laporan panitia, pemberian hadiah, pemberian santunan dan sebagainya.

“Kita panggil Mas Juno dan Mbak Dewi untuk naik ke atas panggung.” Kata MC.

Aku memang sudah mempersiapkan bunga anggrek yang cantik, anggrek dendrobium warna putih untuknya. Aku gandeng tangannya menuju  ke atas panggung. Aku tatap matanya.

“Dewi terima lah bunga anggrek ini.”

“Ah…., Juno, kamu selalu romantis.”

Lagu “Setangkai Anggrek Bulan” , syairnya sangat bagus sangat cocok untuknya dan iramanya cukup mudah.

“…..Dirimu dewiku,

Permata hatiku,

Kubayangkan,

Di setiap waktu……”

Kala berakhirnya lagu tersebut, para alumni berdiri dan memberikan tepuk tangan yang cukup riuh.

“Nggak nyangka Juno suaranya cukup merdu. Kompak duetnya.”

Dini melantunkan beberapa lagu, lagu ndangdut, lagu pop atau irama lainnya. Para alumni larut dalam nyanyiannya, ikut berjogat dengan suka cita. Saat Dini menyanyi lagu romantis, Dewi menarikku ke depan mengajak menari bersamanya. Aku dipandunya, bagaimana harus menari,  berputar kekiri atau ke kanan. Ia memang pandai  menari dan dansa sejak di SMA. Aku sangat meninkmatinya, lupa bahwa usiaku sudah menginjak kepala enam.

“Juno peluk aku.”

Aku pun mengikuti apa yang dikatakannya.

“Juno, aku sedang tidak baik-baik dengan suamiku. Aku bisa datang kesini karena suamiku sedang tugas ke luar negeri.”

“Jadi kau berlanjut dengan laki-laki yang menggandengmu di SMA?”

“Ya…, perkawinan yang membahagiakan pada awalnya. Suamiku sangat menjagaku, sebagai bentuk rasa cintanya. Namun, aku merasa cintanya berlebihan, ia sangat pencemburu.”

“Juno dekap aku lebih erat,” bisiknya.

Aku peluk lebih erat untuk memberikan rasa tenang. Aroma melati tercium dari badannya. Sungguh aku sangat menikmatinya.

“Juno, suamiku sudah jadi perwira tinggi di kepolisian, lihat laki-laki berbaju batik yang duduk menyendiri di sebelah kiri, itu pengawalku. Kemana pun aku pergi dia  selalu mengikutinya. Aku sebenarnya risih dengan pengawalan tersebut, tapi itu sudah menjadi protokol di kepolisian.”

 “Juno, keluargaku yang sudah lama aku bangun, sekarang bagai kapal yang akan karam.”

“Bagaimana bisa, bukankah suamimu itu sangat mencintaiku?”

“Suamiku selingkuh dengan polwan bawahannya. Juno, kamu tahu kan di kepolisian, tidak diperbolehkan poligami. Kalau aku laporkan kepada atasannya, karir suamiku pasti hancur. Sementara aku masih perlu biaya  untuk membiayai anak-anakku, satu sedang ambil Doktor di Amrik dan adiknya sedang ambil Pasca Sarjana di dalam negeri.”

“Bagaimana kamu tahu suamimu selingkuh?”

“Firasatku, firasat seorang istri. Aku tugaskan pengawalku untuk menyelidikinya secara diam-diam. Hasilnya seperti apa kata firasatku.”

“Terus apa solusinya?”

“Sampai sekarang aku masih pura-pura tidak tahu. Aku masih memikirkan biaya anak-anakku.”

“Dewi, aku ikut prihatin.”

“Dewi apakah kita masih bisa ketemu lagi?”

“Juno, ini pertemuan pertama sekaligus pertemuan terakhir.”

“Kenapa?”

“Aku tidak ingin suamiku mengetahui hubungan kita. Sudah aku katakan ia sangat pecemburu. Aku khawatir terjadi sesuatu kepadamu.”

Acara reuni itu sungguh luar biasa. Teman-teman merasakan kehangatan dan kegembiraannya. Bagiku, selain kegembiraan itu masih ditambah ketemu dengan Dewi. Ia langsung pulang  sehabis acara reuni selesai.

“Dewi izinkan aku akan memelukmu sekali lagi’”

Aku tatap matanya, ia  pun membalas. Di matanya terlihat genangan air bening.

“Juno peluk aku yang erat.”

Kembali jantung dan hati bernyanyi tanpa aturan.

Reuni emas memberikan kenangan yang tidak terlupakan. Tiga pelukan sesaat itu memberikan rasa yang berbeda.

Dengan Nuril, pelukan itu  biasa – biasa saja. Pelukan sesama teman yang sudah lama tidak jumpa.

Dengan Nunik, pelukan itu  ada perasaan haru, ada rasa kerinduan.

Dengan Dewi, pelukan itu memberikan sensasi yang luar biasa. Jantung dan hatiku bersuara dengan riangnya bahkan hidungku ikut merasakan sensasinya, merasakan aroma wangi melati.

Kenangan pelukan sesaat itu telah aku simpan dalam hati.  Pelukan yang  tidak pernah aku rasakan kembali.

—————————

Kebun Raya Residence , Ciomas-Bogor 5 Februari 2024

Ditulis oleh:

Alumni 1973

BAMBANG WINARTO dilahirkan di Magelang pada tanggal 15 Juni 1954. Selesai mengikuti Pendidikan di SMA N Kendal 1973, ia melanjutka di Fahutan di IPB (1978). Karir di pemerintahan mulai berkembang setelah memperoleh gelar Magister Manjemen (MM). Karier tertinggi sebagai ASN sebagai Kepala Kanwil Kehutanan Provinsi Sulawesi Utara (2000). Pernah sebagai penulis non fiksi tentang kehutanan. KAMUS KEHUTANAN merupakan karya fenomenalnya yang menjadi pegangan para rimbawan. Saat ini menekuni penulisan cerita pendek (cerpen) dan puisi. Cerpen – cerpen yang ditulisnya di unggah pada web CERPENMU dan selalu menjadi nominasi cerpen terbaik setiap bulannya.

Tinggalkan Komentar

LANGGANAN

BULETIN KAMI