Ngomongin Startup Digital Yuk
2015 adalah tahun pertama saya mengenal bisnis model baru yang dikenal dengan Startup. Ya sudah sangat lama, kalau inget dulu ya pertama kali Gojek masih baru release dengan model app yang tersambung ke CS untuk mencarikan ojek. Tahun-tahun yang sangat indah sebenarnya karena belum banyak app yang besar seperti sekarang.
Bukan dibilang mudah, model bisnis Startup ini masih terus saya pelajari sampai sekarang, karena ya belum ada startup saya yang berhasil besar tentunya. Referensi untuk belajar sangat banyak saat ini, dan program-program inkubator juga semakin menjamur. Ya itulah kesibukan saya saat ini sambil membuat Xdua Digital.
Xdua Digital bukan saya kembangkan secara startup, ini adalah konvensional bisnis yang bertopik Teknologi. Ya semua masih konvensional walaupun ada teknologi yang saya gunakan tapi I run it with Old method.
Okay balik lagi ngomongin startup, siapa disini yang mengenal Bukalapak? Tokopedia?. Di tahun 2009 saat saya mulai berkuliah, 2 nama ini cukup familiar. Dulu ada juga Berniaga.com, dan Tokobagus yang saat ini 2 entitas ini sudah diakuisisi oleh OLX perusahaan dari luar Indonesia. Melihat Bukalapak dan Tokopedia yang masih berkibar sampai saat ini, saya merasa haru karena mungkin bisa dibilang melihat dan mencoba dari nol. Sebenarnya ada yang lebih besar lagi pada jaman itu, yaitu Kaskus dengan Founder nya Mas Andrew.
Wah kalau nostalgia dengan kaskus, mungkin bisa dibikin 1 artikel sendiri kali ya, bisa kita bahas kenapa Kaskus telat memulai e-commerce nya, lalu sistem Rekening bersama yang diterapkan di marketplace juga sudah ada di Kaskus, Next time ya saya akan ngobrol secara awam tentang kaskus.
Yang pasti untuk memulai model bisnis Startup, kamu harus balik lagi ke konsumen. Karena hanya 1 from million yang bisa sukses tanpa melihat konsumen dan itu berdasarkan ide startup kamu yang emang benar-benar berbeda, Unfair Advantage kalau istilah keren nya sih gitu. Yaitu pembeda yang tidak mudah ditiru oleh siapapun.