MENGENANG SMA NEGERI KENDAL (persahabatan)

MENGENANG SMA NEGERI KENDAL (persahabatan)

NURUL: BERSAMA TEMAN SEBANGKU.

Temanku namanya mirip dengan namaku, kalau aku Siti Nurul Qomariyah, temanku yang satu ini namanya Komariyah. Kami sebangku mulai kelas 2 IPA sampai kelas 3 IPA. Orangnya kecil, kulitnya putih, rambutnya panjang dikuncir. Kami sangat komPak dalam belajar. Sering sekali saya ke rumahnya untuk nggarap PR bareng-bareng. Lucunya kalau adiknya laki-laki yang Qori’ sedang berlomba MTQ, kami belajar sambil dengar radio, bila PR sudah selesai kami bersama-sama membaca solawat Nariyah untuk mendukung adiknya agar menang lomba, alhamdilillah adiknya bisa jadi juara nasional.

Kekompakan kami berlanjut sampai setelah lulus SMA. Kami bertiga dengan Dahlan duwur  mendaftar di Undip di fakultas yang berbeda.

Saya diterima di Fakultas  Kedokteran, dik Kom (begitu saya memanggilnya) di Fakultas  Peternakan dan Dahlan diterima di Fakultas Hukum.

Saat tingkat 1, kami bertiga kost satu rumah di daerah Sekayu, itu hunian padat di belakang gedung wayang orang Ngesti Pandowo. Saat tingkat 2, kami pindah kost. Dik Kom di asrama YGWS, Dahlan di Pleburan sedang saya di depan RS Kariadi (terpaut 2 rumah dengan gedung Akademi Pertanahan tempat kawan Hambali kuliah). Sejak itu kami bertiga tidak pernah bertemu, sibuk dengan kuliah masing-masing.

Saya baru bertemu dengan dik Kom Juli 1992 saat saya habis melahirkan, dik Kom tilik ke rumah ibu saya dengan menggendong anaknya yang ganteng kira-kira umur 2 tqhun, seneng sekali kami bertemu. Setelah itu kami tidak pernah bertemu lagi, sibuk dengan keluarga masing-masing. Tuhan mempertemukan kami lagi saat kita reuni SMA di pantai Indrayanti Jogjakarta (th berapa ya… lupa). Sejak saat itu kami berkomunikasi lewat WA. Pada bulan puasa di tahun yang sama dik Kom ingin mengenalkan anaknya yang sudah lulus kuliah dan sudah bekerja  dengan anakku yang masih kuliah di FK-UGM.

Kami sepakat hari raya ke dua makan bersama di RM Aldila Kendal. Manusia hanya bisa merencanakan, Tuhan yang menentukan. Malam takbiran dik Kom  memberitahu bahwa dia dirawat di RS Telogorejo, maka janji makan bersama batal. Aku bersama suami dan anakku bezoek dik Kom dan bertemu dengan suami dan anak dik Kom. Kami sepakat kalau dik Kom sudah sembuh akan membahas lagi rencana kami. Sayang sekali, beberapa hari setelah dik Kom keluar dari rumah sakit, dia dipanggil Allah di rumah ibunya di Kendal.

Tentang Dahlan, kami tidak pernah bertemu sejak kami pindah kost.

Awal tahun 2019 tiba-tiba ada WA dari Dahlan yang mengabarkan bahwa dia mendapatkan no HP saya dari adikku yang bermukim di Condet, karena sama-sama aktif di perkumpulan PAKEN. Langsung no HP Dahlan saya usulkan untuk dimasukkan dalan grup Ank71 KENDAL. Sebelum kita bisa bertemu Dahlan di Kota tua Semarang, saya sempat bertemu dia saat dia menyambangi saya di Jakarta karena saya menghadiri acara ilmiah. Ternyata pertemuan kita di Kota tua berlanjut reuni merupakan pertemuan terakhir kita dengan Dahlan.

Demikian cerita saya untuk buku kenangan, terimakasih.

————–

 

MELANI : PERSAHATAN SEJATI

Bermula dari rasa heran/ kagum melihat seorang siswa perempuan sedang berdiri dekat ring bola basket sebelah selatan yang tidak jauh dari kelas 1/1. Saat itu, aku sedang   berdiri di depan pintu kelas sambil melihatnya “kok dhuwur banget”,  karena penasaran ingin menaksir tingginya mungkin hampir 2 meter, maka kudekati sambil menegur  “Mbak, kelas satu apa?” Eee…,  ternyata sekelas denganku. Aku memanggilnya mbak sebab belum kenal dan tinggi nggak pantas aku panggil dik. Panggilan ini akhirnya menjadi kebiasaan hingga sekarang.

Wali kelas 1/1 Pak Singgih Bc Hk menyuruh untuk membentuk pengurus kelas. Ketua terpilih Fajar Hariyadi (alm), sekretaris Endang Nursilowati, bendahara Kustini tapi PLH nya dirangkap oleh mbak Nunuk yang tugasnya menerima pembayaran SPP dan iuran Osis. Senang sekali sekolah di SMA Ganaputra tidak kena marah dewan guru seperti waktu SMP, mungkin siswa-siswanya sudah menginjak masa remaja. Di SMA ini rasa minder mulai menghampiriku karena cuma punya rok bebas tiga seragam putih dan kojarsena, sementara teman-teman dalam kondisi “fashion show” lalu aku cari jalan keluar agar rasa minderku hilang. Sekretaris (mbak Nuk) saya minta untuk menulis pengumuman tentang seragam khusus kelas 1/1 dan harus dipatuhi dilaksanakan tanpa reserve. Bagi siswa yang melanggar harus meninggalkan kelas dengan tidak hormat. Alhamdulillah semua pengurus kelas mau tandatangan acc. Ini cikal bakal kedekatanku dengan bu kasuk. Beliau memiliki aneka model dan warna pakaian tapi mau juga kompromi tentang seragam kelas. Dalam hatiku … ” wahhhh … ternyata Mbak Nuk ki ora dumeh”

Karena aku merasa dibantu dalam menghilangkan rasa minder, maka sebagai balasannya klo diajak kemanapun aku juga mau tanpa reseeve.

Jadwal hari Selasa hanya Olga sampai jam 09.00 terus pulang. Kelonggaran waktu ini aku dan Kisminah (almh) diajak ke PG Cepiring untuk mengambil uang minyak tanah, hampir 2 minggu sekali kadang-kadang juga setiap Selasa bermobil ria warna coklat merk hilman semuanya masih manual termasuk lampu reting jika engkel untuk menggerakkan naik turun ya dilakukan dengan tangan. Mobil ini nyaman sekali meskipun tanpa AC tapi tidak panas/sumuk joknya luas empuk. Aku sangat terkesan dengan mobil ini.

——

Ketika SMA merayakan pesta ulang tahun dasawarsa mbak Nuk ditugaskan mencari dana keliling Kendal, aku selalu diajak kadang juga dengan Kisminah jika ybs ada waktu. Yang aku herankan jalan-jalan ke semua penjuru kok tahu baik jalan raya maupun jalan tembus melewati sawah-sawah desa, ketemu semua alamat yang dituju dan kembali ke sekolah lagi tanpa tanya-tanya. Gogel map ? Belum ada bro! Fotokopi baru ada di Jakarta.

Dalam mencari dana mbak Nuk dibekali vandel dasawarsa Ganaputra, kadang aku disuruh nunggu di mobil, seringkali diajak juga menghadap Pak Lurah. Klo ada almh yang diajak masuk ya beliau. Setiap hari selesai keliling hasilnya seingatku diserahkan ke Pak Tom, tidak tahu berapa puluh ribu. Pernah suatu pagi mbak Nuk tertawa geli yang tidak kufahami penyebabnya. Setelah di mobil baru cerita kalau Pak Lurah ini hanya memberi 500 rupiah, vandel yang sudah ditaruh di meja ditariknya pelan-pelan dimasukkan lagi ke dalam stopmap, tidak jadi diberikan.

-‐—–

Kelas 1/1 berada paling selatan dekat kantin dan kamar mandi, klo jenuh di kelas aku diberi kode suruh keluar, lalu mbak menyusul terus dilanjut jajan: dawet di pasar, rujak gobet di jalan arah ke pasar, kadang juga di jalan pahlawan (Desa Kalibuntu). Pernah di perjalan mau jajan sedang berada di atas becak ketemu pak Tomi lalu ditegur diduruh putar balik ke sekolahan.

——-

Suatu hari di hari Kamis aku diajak lagi ke PG Cepiring, tapi naik mobil blazzer, kutanyakan mobil hilman, katanya dah diganti blazzer ini. Aneh hatiku sedih ga lagi bisa naik hilman, mobil ini lebih nyaman dari mercy ato dikarenakan aku selalu naik mobil Si Doel dari Kendal ke Semarang panas tapi tidak pengap karena full angin cendela. Pas mbak Nuk menyetorkan uang minyak ke toko Kerja di jalan rata kendal aku ditinggal di mobil hilman terasa nyaman, parkir di selatan jalan klo di dalzm blazzer kuranv nyaman. Sampai sekarzng klo ada mobil antik pasti aku perhatikan dengan saksama barangkali hilman, mau kubeli.

————–

SUDIRNO : SEKELUMIT KENANGAN DI SMA NEGERI KENDAL.

Sahabat    -sahabatku Angkatan 1971 SMA Negeri Kendal, saya mencoba mengingat kembali kembali kenangan 51 tahun lalu waktu kita sama -sama di SMA.

Bagiku masuk SMA Negeri Kendal adalah suatu kebanggaan. SMA Negeri Kendal merupakan satu-satunya SMAN di Kabupaten Kendal,  dengan gedung yang megah peninggalan Jaman Belanda, walaupun gedung pinjaman.

Waktu kelas 1 kalau tidak salah I/1, saya mendapat ruang kelas paling belakang berbatasan dengan warung makan Jack Mun yang selalu ramai. Berdekatan dengan warung makan ada enak dan tidaknya, enaknya kalau mau jajan dekat, paling tidak dapat menikmati bau sedapnya Soto dan gorengan warung Jack Mun. Tidak enaknya  kalau ada kelas lain kosong kelas kita ada pelajaran , riuhnya canda teman-teman di warung sangat menggangu terutama teman – teman yang duduk paling belakang.

Sekedar mengingatkan untuk teman – teman yang masuk kelompok DARMAJI ( dahar lima mbayar siji ) , masih dapat kesempatan menembus dosa dengan mewakafkan sebagian harta kita untuk atas nama Bpk Jack Mun.

Kenaikan kelas 2 merupakan waktu yang paling mendebarkan, karena saat itulah titik awal mencapai cita-citaku menjadi seorang insinyur atau dokter. Syukur alhamdulilah saya naik kelas II IPA walaupun dengan nilai yang pas-pasan. Dengan demikian satu tahap untuk mencapai cita-cita terlalui.

Bapak dan Ibu Guru SMA negeri Kendal merupakan guru – guru yang berdedikasi tinggi dalam mendidik dan mencerdaskan murid-muridnya dengan gaya, cara dan ciri khasnya masing-masing.

Salah satu guru favoritku adalah Bpk Drs. Widagdo guru mata pelajaran Fisika dan Ilmu Mekanika. Kalau beliau mengajar terkesan santai, menggunakan bahasa yang mudah dimengerti, jelas membuat para murid  selalu tertarik untuk menyimak. Beliau adalah guru yang dekat dengan murid-muridnya. Beliau adalah seorang guru mempunyai jiwa muda, pada waktu liburan Beliau mengajak murid-muridnya berjalan kaki melintasi alam dari Kendal menuju Candi Gedong Songo di lereng gunung Ungaran. Sungguh perjalanan yang sangat mengesankan bagiku.

Bapak guru yang berkesan lainnya adalah Bpk  Rusmoyo BA. Beliau mengajar pelajaran Kimia , kalau tidak salah mengajar Fisika sebentar menggantikan Bpk Drs Widagdo. Gaya mengajar beliau cepat bahkan terlalu cepat bagi saya yang daya tangkapnya lemah, sehingga pelajaran Kimia bagiku merupakan pelajaran tersulit.

Yang lain Bpk Guru Sugeng BA, mungkin banyak teman ² yang tidak mengenal beliau. Pak Sugeng orangnya tenang mengajar mata pelajaran pilihan melukis. Saya memilih pelajaran melukis karena pengin jadi pelukis handal seperti maestro Affandi atau  Sapto Hudoyo hehehehe… Namun keinginan tinggal keinginan karena tidak punya bakat walaupun sudah dibimbing oleh pak Sugeng dengan belajar di alam terbuka kandaskan jadi pelukis.

Kenangan lain adalah ikut group belajar dengan teman2 yang pintar biar ketularan pintarnya, terutama waktu mengerjakan pekerjaan rumah dari Guru. Anggota kelompok yang saya ingat : Kancahwono ( Alm ) rumah beliau sebagai Pos belajar, Iskandar ( Alm ), Bambang Winarto, Tedjo Rumekso, Edy Susilo, dan saya sendiri Sudirno.

Ada kesempatan menarik dari group belajar,  anggota group tidak dipebolehkan pacaran dengan adik anggota group lainnya. Walaupun Om Bambang Winarto, Om Edy Susilo dan Om Hari Tri punya adik-adik  cantik tidak ada yang berani macari, hanya melirik saja itupun takut dimarahi, kesepakatan masih berlaku sampai sekarang hehehehe..

Kenangan lain yang tidak saya lupakan adalah tragedi di jembatan Boja,  dalam cerita seri   ” MENGANTAR ARJUNA MENCARI CINTA DI BOJA “.

Pekanbaru, 27/02/2022.

Salam sehat dari Sudirno

Ditulis oleh:

Alumni 1973

BAMBANG WINARTO dilahirkan di Magelang pada tanggal 15 Juni 1954. Selesai mengikuti Pendidikan di SMA N Kendal 1973, ia melanjutka di Fahutan di IPB (1978). Karir di pemerintahan mulai berkembang setelah memperoleh gelar Magister Manjemen (MM). Karier tertinggi sebagai ASN sebagai Kepala Kanwil Kehutanan Provinsi Sulawesi Utara (2000). Pernah sebagai penulis non fiksi tentang kehutanan. KAMUS KEHUTANAN merupakan karya fenomenalnya yang menjadi pegangan para rimbawan. Saat ini menekuni penulisan cerita pendek (cerpen) dan puisi. Cerpen – cerpen yang ditulisnya di unggah pada web CERPENMU dan selalu menjadi nominasi cerpen terbaik setiap bulannya.

Tinggalkan Komentar

LANGGANAN

BULETIN KAMI