MATA KELINCI (4)

MATA KELINCI (4)

“Mas Juno  …., hari raya nanti pulang ya…., Denok kangen sekali.”

“Denok, hari  raya ini, Mas Juno tidak pulang. Banyak tugas yang Mas Juno harus selesaikan.”

“Mas Juno sudah punya pacar gadis Sunda ya…, lupa sama Denok ya..?”

“Ya…, nggak lah…”

“Mas Juno, Denok mengalami kesulitan bahasa Inggris.”

Itu sedikit curhat dari Denok. Sepertinya, Denok  tidak mempunyai  teman dekat yang dapat dijadikan tempat untuk curhat.

Sementara SMS an dengan Dewi tidak sesering sepertinya SMS an dengan Denok. Dewi cerita biasa-biasa saja, cerita tentang sekolah, tentang temannya, tentang bapak dan ibu guru. Sepertinya Dewi dapat mengikuti pelajaran dengan baik.

Kala tingkat tiga, aku dapat berita yang cukup mengejutkan tetapi juga sekaligus menggembirakan dari Denok.

“Mas Juno, bulan depan Denok menikah. Denok dijodohkan sama ayah dengan pemuda desa sebelah namanya PANDU. Padahal Denok masih kepengin sekolah.”

“Semoga Denok bahagia.”

“Denok pengin nikahnya sama Mas Juno, tapi Ayah tidak setuju.”

“Denok, itu namanya takdir, bukankan lahir, jodoh dan mati sudah ditetapkan olehNya. Lagi pula Mas Juno masih kuliah dan nanti kerjanya di Kalimantan.”

Sepertinya  sudah tradisi di desa kalau pendidikan SMA sudah dianggap lebih dari cukup untuk seorang gadis. Aku hanya khawatir Denok yang sudah terbiasa manja tidak bisa melayani suaminya. Apalagi yang aku dengar suaminya anak tunggal dari orang kaya dari desa sebelah, umurnya pun tidak jauh berbeda dengan Denok. Biasanya orang seperti ini juga cenderung egois, minta di layani. Semoga kekhawatiranku tidak terjadi.

Namun, tidak sampai dua tahun, kekhawatiranku ternyata terjadi. Ketika baru saja lulus dari IPB, aku menerima berita dari Denok.

“Mas Juno, Denok sudah berpisah dengan Mas Pandu. Denok tidak mau dimadu. Denok sudah punyai anak perempuan, namanya DEWI YULIANI, saat ini baru bisa berjalan tertatih-tatih.”

“Denok, Mas Juno ikut prihatin, semoga Denok dapat jodoh lagi yang jauh lebih baik.”

“Denok maunya nikah sama Mas Juno.”

Aku sungguh khawatir sekali, Denok selalu mengharapkanku untuk jadi suaminya. Padahal sejak dahulu Denok sudah seperti adikku.

Selesai menempuh pendidikan di IPB, aku langsung  kerja di PT. Sylva Indolestari yang mempunyai konsensi hutan cukup luas di Kalimantan Timur.

“ Dik Juno, kamu satu-satu sarjana kehutanan, ada beberapa tugas yang menjadi tanggung jawab Dik Juno. Pertama membuat rencana hutan, baik jangka panjang, jangka  menengah maupun jangka pendek. Kedua setiap tiga bulan sekali harus ke lapangan, melakukan cruising. Ketiga, Dik Juno menjadi penghubung dengan Kementerian Kehutanan, Dinas Kehutanan Provinsi dan Kabupaten serta Kanwil Kehutanan. Keempat sistem kerja berdasarkan target yang harus diselesaikan, bukan berdasarkan jam kerja, jadi kerja lembur sudah biasa. Hari kerja dari Senin sampai Jum’at. ” Kata direktur perusahaan.

“Siap Pak.”

“Selanjutnya saya informasikan tentang fasilitas yang dapat diperolehnya. Pertama, ada tiga staf yang membantu, Amin dan Amir, keduanya lulusan Sekolah Kehutanan Menengah Atas dan satu orang,  Kamto, dari Sekolah Pengukuran dan Perpetaan. Ketiganya cukup berpengalaman di lapangan. Kedua, disediakan kendaraan operasional dipakai untuk keperluan tugas.  Ketiga, gaji pertama yang diperoleh kira-kira lima kali gaji PNS golongan tiga dan  setiap enam bulan sekali akan di ditinjau kembali. Keempat, makan  siang dan malam jika ada pekerjaan lembur ditanggung perusahaan yang penting ada bon nya dan yang kelima, disediakan uang transportasi dari rumah ke tempat kerja.”

“Baik, Pak. Terima kasih”

Suatu tantangan yang menarik, sejak awal aku sudah diberi kepercayaan bukan hanya sebagai perencana hutan, tetapi juga sebagai penghubung  dengan instansi pemerintah.

Ketika mendapat tugas kelapangan yang pertama sungguh sangat menyenangkan. Benar-benar petualangan di rimba raya. Aku sangat kagum dengan penduduk lokal yang sengaja aku ajak pada kegiatan cruising, mereka mampu membawa bahan makanan dan peralatan cruising yang beratnya rata-rata 40 kg, dengan entengnya. Juga, mereka sangat membantu dalam mengenal jenis pohon dengan nama lokal. Beberapa jenis pohon yang meragukan nama jenisnya, terpaksa diambil daunnya untuk dibuat HERBARIUM dan untuk selanjutnya akan diidentifikasi di Lembaga Penelitian Kehutanan Bogor.

Tugas pertama di hutan sangat mengesankan. Kalau darah dihisap lintah dan badan digigit nyamuk hutan sudah biasa. Rasanya belum bisa disebut sebagai RIMBAWAN kalau belum pernah menjelajahi hutan di Kalimantan. Nuansa hutan di Kalimantan  sangat jauh berbeda dengan hutan di Jawa dengan tanaman  monokultur, hanya satu jenis tanaman apakah tanaman jati atau tanaman pinus atau tanaman lainnya.

Sudah tiga tahun aku bekerja di PT Sylva Indolestari dengan karier yang cukup bagus  dan gaji yang lumayan besar. Setiap bulan, sebagian gaji aku kirim ke ayahku di Pegandon. Ayahku begitu bangganya setiap menerima kiriman uang dariku. Kehidupan keluargaku di kampung menjadi semakin baik.

Suatu ketika sedang makan siang di kantin yang berada di lantai atas gedung, di meja agak jauh duduk wanita yang mengingatkan akan seseorang, Dewi, ya…., Dewi. Namun sebelum aku mendekatinya, wanita tersebut sudah selesai makan dan meninggalkan kantin melalui lift. Aku yakin, wanita tadi Dewi, aku tidak bisa melupakan wajahnya, terutama matanya yang begitu indah. Rasanya aku tidak akan lupa, aku telah memotretnya dan telah kusimpan dalam memoriku sejak di SMA.

Semenjak itu, aku rajin makan siang di kantin. Perlu tiga Minggu wanita  yang kunanti itu muncul kembali. Dia duduk di tempat yang sama dipinggir jendela yang dapat melihat pemandangan ke luar. Gemuruh hati dan jantungku hampir-hampir saja tidak terkendalikan. Aku teguk air mineral dingin yang ada di depanku. Kala sudah reda, aku lihat kembali wajahnya. Ya…, ya…., itu Dewi, tidak salah lagi. Aku berjalan mendekatinya.

“Hallo Kelinci.” sambil menyodorkan tanganku untuk bersalaman.

“Hai…, Mas Juno.” Kelinci memeluk dengan hangat.

Pertemuan yang tidak terduga. Lebih dari tujuh  tahun tidak jumpa. Dewi tambah dewasa, tambah cantik. Kami ngobrol banyak hal, tentang SMA, teman –  teman, bapak dan ibu guru, kuliah, dsb.

“ Iya Mas, lulus dari SMA, Dewi melanjutkan di UNDIP dengan mengambil jurusan akuntansi pada fakultas ekonomi,  makanya Dewi dapat kerjaan di perusahaan konsultan pajak.”

“Banyak cliennya?”

“Banyak, terutama dari perusahaan-perusahaan yang cukup besar. Umumnya mereka tidak mau repot ngitung pajak yang harus dibayarkan ke negara. Sebenanrnya ngitung pajak itu gampang, tapi ya… perlu ketekunan dan ketelitian.”

Kantornya berada di gedung yang sama dengan kantorku, hanya beda lantai. Kantorku berada di Lantai 9 sementara kantornya Dewi berada di lantai 13.

“Kelinci tinggal di Jakarta?”

“ Dewi tinggal di Depok bersama Bulik. Bapak sudah meninggal tiga tahun yang lalu, Ibu tambah sepuh, hanya ditemani oleh Mbok Iyem.”

“Kelinci sering pulang ke Kendal?”

“Ya…, Mas. Paling tidak tiga bulan sekali pulang ke Kendal. Sebenarnya Dewi  kasihan juga sama Ibu, tapi ya…, bagaimana? Malahan Ibu sendiri yang mendorong Dewi kerja di Jakarta.”

Sejak itu, makan siang selalu bersamanya tidak hanya di kantin, tetapi juga  makan di luar kantin. Berbagai suasana makan siang sudah kucoba bersamanya, di kaki lima, Ayam goreng Kentucky, Mbok Berek, Ayam Goreng Suharti, Gudeg Pejompongan, Soto Lamongan Cak Setiawan Soto Ayam Ambengan Pak Sadi dan masih banyak lagi.

Hubunganku dengan Dewi telah memasuki bulan keenam. Aku merasa bahwa  hubunganku dengannya sudah demikian dekatnya. Sudah saatnya aku ingin MELAMAR nya untuk hidup bersama.

 “Kelinci, Minggu besok kita ke CIKOLE  ya… sekedar jalan – jalan, ganti suasana, minum susu segar, menghirup hawa segar, lihat pemandangan.”

“Cikole? Dimana itu Mas?”

“Cikole itu dekat LEMBANG, hanya sekitar 6 Km darinya.

“Ok, Dewi terima dengan senang hati.”

“Sudah pernah ke Cikole belum?”

“Belum Mas.”

“Kalau Lembang?”

“Belum juga, Mas.”

“Ok, Nanti kita ke Lembang dulu baru ke Cikole.”

“Apa yang di tawarkan di Cikole?”

“Banyak tempat wisata gunung dengan aroma khas pohon pinus.”

“Asyiik.”

“Kita berangkat pagi hari.”

“Ya…, Mas.”

Hari Minggu pun datang sesuai dengan janjinya. Dewi   memakai celana jean, kaos warna putih motif bunga melati, pakai topi dan sepatu kets. Aroma melati  menempel di tubuhnya, parfum kesukaannya, juga  aroma favoriteku. Dewi bagai bunga yang sedang mekar dan aku kumbang  beruntung yang akan hinggap dan mengisap madunya.

—————–

Cuaca sangat cerah, sepanjang mata  memandang ke atas yang terlihat  langit biru bagai lautan. Awan tahu diri, pergi entah kemana. Mentari memberi senyuman dan   kehangatan serta lukisan semburat merah yang sangat indah. Mereka semua sepertinya ikut bergembira menyertai kegembiraan hatiku.

Sengaja aku pilih melalui jalur Puncak ingin menikmati keindahan pemandangan alamnya. Perjalanan relatif lancar sampai Puncak pun masih pagi, berhenti sebentar untuk memberikan kesempatan istirahat Pak Sopir.

“Kelinci kita istirahat sebentar, kita menikmati jagung bakar dan jagung rebus serta minuman bajigur sambil menikmati  keindahan alam, mozaik tanaman teh dan kota Bogor dari atas awan.”

‘Iya .. Mas.”

“Sudah pernah minum bajigur belum?”

“Belum Mas.”

“Nanti, kalau sudah minum sekali pasti ketagihan.”

“Naah Kelinci, hawa dingin tentu nikmat sekali makan jagung bakar atau jagung rebus ditambah  minum bajigur atau mau makan bubur ayam Cianjur?”

“Dewi mau jagung rebus dan bajigur saja.”

“Lihat Kelinci, pemandangan kebun teh indah bukan? Lihat kota Bogor. Kalau malam sangat indah dengan lampu-lampunya.”

“Lihat…, lihat …, ada gantole dengan sepasang muda-mudi yang mengendarainya. Kelinci berani nggak naik gantole?”

“Kalau sama Mas Juno, Dewi berani.”

Aku perhatikan Dewi sangat menikmati jagung rebus dan minuman bajigurnya. Bahkan Dewi  ambil jagung rebus satu lagi. Memang di hawa dingin paling enak makan makanan hangat ditemani minuman hangat pula. Aku sendiri lebih memilih jagung bakar dengan minuman yang sama, bajigur. (BERSAMBUNG)

——————–

BAMBANG WINARTO (mBang Win) Setelah lulus dari SMA Negeri 1 Kendal (A73), mengikuti pendidikan di Fahutan – IPB (1974-1978). Bekerja di Kementerian Kehutanan 1979-2010. Memperoleh gelar Magister Manjemen bidang studi Agribisnis dari UGM tahun 1993, dengan predikat lulusan terbaik. Ia aktif menulis artikel tentang kehutanan di majalah kehutanan. Saat ini sedang menekuni penulisan cerita pendek dan puisi. Hobby menulis dilakukan untuk menjaga agar tidak cepat lupa karena usia.

Alamat: Kebun Raya Residence F-23 Ciomas, BOGOR, HP : 081316747515 Email: bambang.winarto54@gmail.com

Ditulis oleh:

Alumni 1973

BAMBANG WINARTO dilahirkan di Magelang pada tanggal 15 Juni 1954. Selesai mengikuti Pendidikan di SMA N Kendal 1973, ia melanjutka di Fahutan di IPB (1978). Karir di pemerintahan mulai berkembang setelah memperoleh gelar Magister Manjemen (MM). Karier tertinggi sebagai ASN sebagai Kepala Kanwil Kehutanan Provinsi Sulawesi Utara (2000). Pernah sebagai penulis non fiksi tentang kehutanan. KAMUS KEHUTANAN merupakan karya fenomenalnya yang menjadi pegangan para rimbawan. Saat ini menekuni penulisan cerita pendek (cerpen) dan puisi. Cerpen – cerpen yang ditulisnya di unggah pada web CERPENMU dan selalu menjadi nominasi cerpen terbaik setiap bulannya.

Tinggalkan Komentar

LANGGANAN

BULETIN KAMI