INGAT! AKU DOKTER FORENSIK

INGAT! AKU DOKTER FORENSIK

17 Sep 2023
1.661

IDA YULIATI,  berprofesi sebagai dokter, tepatnya DOKTER  FORENSIK,  satu – satunya dokter forensik di salah satu rumah sakit ternama di daerahku. Layaknya sebagai dokter, aku biasa di panggil Ibu Dokter, sedangkan teman teman sejawat memanggilku Dokter Ida.

Dengan Ilmu yang aku miliki, aku mempunyai   kemampuan menjadikan barang bukti, baik manusia yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia menjadi alat bukti hukum. Selain itu, aku juga ahli berbagai racun dan berbagai hal yang berhubungan dengan narkotika.

Suamiku, PRABOWO,  aku memanggilnya Mas BOWO, menjabat sebagai direktur salah satu perusahaan yang bergerak dalam bidang IT. Umurnya 45 tahun, 2 tahun di atasku, usia yang sangat matang dalam mengarungi bahtera kehidupan. Wajahnya mirip orang timur tengah, warna kulitnya putih,  rambutnya agak ikal. Orangnya gagah, tinggi besar, badannya atletis. Memang Mas Bowo rajin memelihara postur tubuhnya. Paling tidak, dalam satu minggu 2 kali ke pusat kebugaran. Sesekali aku menemani. Kepenginnya siiich rutin mendampinginya, tapi tidak memungkinkan. Tugas selalu memanggilku setiap saat.

“Ibu Ida, telah ditemukan potongan tubuh manusia dalam 2 karung. Kini  sudah di rumah sakit polisi, mohon bantuannya.”

Ya…., panggilan seperti itu setiap saat datang  tanpa mengenal waktu. Sebagai dokter yang telah disumpah, panggilan itu wajib aku penuhi.  Hampir setiap hari, aku sibuk membantu polisi dalam mengungkap kematian seseorang baik kematian yang masih baru atau kematian yang sudah lama. Apalagi kalau yang meninggal figur publik, apakah artis, politisi, pejabat, pemuka agama atau lainnya.

Pernikahanku dengan Mas Bowo  sudah berjalan 9 tahun, dikaruniai seorang putra berumur 4 tahun. Mas Bowo memberi nama  ABIMANYU, panggilannya ABI,  masih belajar sekolah  di Paud Pandawa yang berada di kompleks perumahan.

Teman-temanku sepertinya iri melihat perkawinanku dengan Mas Bowo begitu harmonisnya, pasangan ideal. 

“Ibu Dokter Ida dengan Mas Bowo merupakan pasangan ideal dan serasi. Ibu dokter cantik dan Mas Bowo  gagah disertai  materi berkecukupan.” Begitu kata teman-teman kolegaku.

Memang, secara materi rumah tanggaku  berkecukupan, rumah cukup mewah di perumahan elite, mempunyai mobil bermerk sendiri dan sederetan kemewahan lainnya. Pendapatanku sebagai dokter jauh lebih cukup. Juga,  Mas Bowo memberiku uang yang cukup besar setiap bulannya.

Namun kalau boleh jujur, keharmonisan keluargaku tidak seperti yang dibayangkan teman-teman. Sebenarnya aku nikah dengan Mas Bowo  karena terpaksa. Orangtuaku sangat khawatir kala usiaku sudah lebih dari 33 tahun belum ada tanda-tanda mempunyai teman dekat lelaki. Ketika Mas Bowo dan ayahnya datang melamar, orangtuaku langsung menerimanya.  Itu dapat dimengerti karena ayahku teman baik ayahnya Mas Bowo. Sepertinya, ayahku dan ayahnya Mas Bowo sudah mengadakan pertemuan sebelumnya.

Memang aku pernah menjalin cinta dengan Arjuno, cinta pertamaku,  tapi cinta kasihku kandas di tengah jalan. Orangtuaku tidak menyetujuinya. Sejak itu aku bersikap dingin  terhadap lelaki.

“Ida, sebagai orang Jawa, calon suami harus memenuhi 3 syarat : bibit, bobot dan bebet. Status sosial kita sangat jauh berbeda dengan status sosial keluarga Arjuno. Lihatlah kehidupannya, sangat sederhana bukan? Masih ditambah lagi soal pendidikan dan pekerjaan. Ida,  ayah tidak akan menerima menantu pilihanmu.”

“Ida, semua orangtua kepengin anaknya bahagia, Arjuno bukan jodohmu.”Kata ayah lebih lanjut.

Palu telah diketok. Aku hanya bisa pasrah. Takdir tidak berpihak kepadaku.

 “Ida, sejak awal aku sudah menyadari siapa diriku. Aku hanya anak petani yang kehidupannya pas-pasan. Sementara engkau, anaknya orang terpandang.”

“Juno, ma’afkan aku.”

“Ida, tidak ada yang perlu dima’afkan. Itu yang disebut takdir. Bukankah perkawinan itu takdir yang sudah ditentukan olehNya?”

Ya…, Arjuno hanya orang biasa saja, anaknya petani. Aku tertarik dengannya sejak kelas satu SMA. Selama 3 tahun aku satu kelas dengannya. Banyak kenangan indah bersamanya. Orangnya penuh perhatian. Kalau aku mengalami kesulitan pelajaran, dia mengajariku dengan penuh kesabaran. Aku kagum akan kesabaran dan kepandaiannya. Dengan segala keterbatasannya dia mampu menjadi siswa terbaik di SMA.

“Ida, bagimana kalau malam Minggu besok kita jalan-jalan nonton bioskop dan ngebakso di warung pink?”

“Waah, senang sekali Juno. Tidak sabar menunggu datangnya malam Minggu.”

“Ida, ini untuk pertama kali aku dapat uang lumayan banyak. Kemarin ada orang yang membeli  tanaman hias gelombang cinta cukup banyak. Kebetulan aku punya tanaman yang diinginkan.”

“Ida, biarkan aku kali ini yang mentraktirmu.”

Memang selama ini, aku yang selalu mentraktirnya kala jajan di warung SMA. Aku menyadari kehidupannya.

Malam Minggu itu, malam yang tidak pernah aku lupakan. Dia menggemgam jemariku dengan cukup erat.

“Ida siapa pun tidak akan aku perbolehkan menggemgam jemarimu.”

Pulangnya dia menciumku dengan lembut. Mataku terpejam, badanku bergetar  serasa kena aliran listrik 3 watt. Aku merasa terbang tinggi ke angkasa berselimut gumpalan awan.

  “Juno, setelah lulus SMA, aku akan kuliah mengambil fakultas kedokteran, aku ingin menjadi dokter. Kalau Juno akan kuliah dimana?”

“Ida, aku masih belum tahu apakah aku akan kuliah atau membantu ayah, mengelola lahan yang tidak seberapa luas.”

Memang Juno selalu membantu ayahnya kala waktu luang, merawat dan sekaligus menjual tanaman. Setelah lulus, Juno   mengelola lahan peninggalan ayahnya. Olehnya, lahan tersebut disulap dengan ditanami dengan berbagai jenis tanaman hias. Sambil  berjualan dia mengikuti kuliah di Universitas Terbuka,  mengambil jurusan pertamanan,.

Setelah menikah, aku tidak tahu bagaimana kehidupannya, apakah dia sudah menikah, apakah dapat menyelesaikan pendidikannya? Apakah masih tetap menjadi penjual tanaman hias. Kadang, aku pengin jumpa dengannya.  Walau bagaimana pun kenangan indah bersamanya selama lebih dari 3 tahun telah melekat dalam  ingatanku.

Sejak Abimanyu lahir, aku mengambil pembantu  khusus untuk merawatnya. Namanya  SUPINAH,  janda tanpa anak yang berasal dari desa. Dia masih muda  berumur 19  tahun, penmpilannya tidak kalah dengan penampilan artis-artis. Rambutnya dibuat model baby bangs. Bagian atas berwarna hitam dan bagian bawahnya berwarna putih kekuningan. Bukan hanya itu saja, dia ingin dipanggil VINA. Pekerjaan rumah tangga tetap dipegang oleh Ginah yang datang pagi dan pulang sore hari. Sementara Vina menginap di kamar belakang.

Sebenarnya aku sudah diingatkan teman-teman sejawat yang pernah datang ke rumahku dan melihat penampilan Vina.

“Ibu Dokter, baby sisternya  terlalu  seksi, badannya  montok, dandanannya melebihi artis. Bu dokter, hati-hati lho dengan baby sisternya, apalagi sudah janda. Bisa-bisa suami Ibu tergoda.”

 “Ah…, masa sich Mas Bowo tertarik dengan ART.”

Apa yang dikatakan teman temanku masuk logika. Apalagi aku mendengar issu kalau Mas Bowo berpacaran dengan salah satu stafnya. Namun, aku tidak menggubrisnya selama aku tidak melihat dengan mata kepalaku sendiri. Aku percaya kepadanya.

Vina sangat pandai menjaga dan ngemong Abi. Perkembangan dan petumbuhan Abi sangat bagus. Perkara makanan dan minuman aku yang mengaturnya,  Vina hanya menyuapinya. Setiap hari, keduanya selalu bersama menumbuhan kedekatan emosi. Kedekatan  Abi dengan Vina melebihi kedekatan Abi denganku.

Pernah  suatu  hari Minggu, aku dan Mas Bowo berencana untuk rekreasi bersama Abi di pantai.

“Abi besok kita jalan-jalan ke pantai ya….”

“Bibi ikut nggak.” Abi memanggil Vina dengan sebutan bibi.

“Kita bertiga saja, nanti kita main bersama.”

“Nggak mau. Abi mau main dengan bibi saja.”

Aku kaget dengan jawabannya.  Sedih mendengarkannya. Tapi itu juga salahku sendiri yang kurang memperhatikannya. Sejak itu aku selalu sediakan waktu untuknya.

Selama hampir empat setengah tahun Vina bekerja sebagai baby sister, kehidupanan rumah tangga seperti biasa saja. Sampai suatu ketika aku perhatikan wajahnya pucat,  sepertinya sakit.

 “ Vina, coba periksa ke dokter, kamu sakit apa.”

“Tidak usah Bu, saya akan minta tolong Ginah untuk mengeroknya dan setelah itu saya minum lemon jahe nanti juga sehat kembali.”

Kala aku perhatikan lebih seksama, ada sesuatu yang berubah pada tubuhnya, payudaranya semakin besar.  Hingga pada suatu hari aku melihat sebuah testpack garis merah dua di tempat  sampah.

“Vina, apakah kamu hamil?”

“Ya…, Bu.”

“Siapa suamimu?”

“Lelaki dari desa yang sama.”

Aku ikut senang  mendengarnya. Usia kandungannya   sudah masuk bulan ke empat.  Aku berencana pada usia kandungannya tujuh bulan, Vina akan aku beri libur sampai tiga bulan setelah melahirkan. Aku akan mencari penggantinya selama dia tidak masuk.

Seperti  biasa setiap malam Selasa, aku piket di rumah sakit. Malam itu, entah kenapa mataku sebelah kanan kedutan beberapa kali. Padahal sudah lama sekali aku tidak pernah kedutan. Sejak kecil aku selalu benci dengan kedutan mata sebelah kanan karena selalu membawa kesialan. Apakah firasat ini ini akan membawa sesuatu yang tidak menyenangkan akan terjadi? Semoga saja tidak.

Sekitar jam 01.00 seperti ada yang menyuruhku  untuk  pulang ke rumah. Jaraknya tidak terlalu jauh, sekitar 7 km, kalau malam paling hanya 10 menit sudah sampai. Aku lebih memilih menggunakan mobil sewaan yang banyak terdapat di depan rumah sakit, rasa ngantuk dan lelah sudah menjalar ke tubuhku.

Perlahan pintu rumah kubuka dan aku langsung menuju kamar tidur. Pintu kamar kubuka, ternyata   Mas Bowo tidak berada di kamar. Sebenarnya, aku ingin membuat kejutan, untuk tidak menginap di RS. Seharian tenagaku telah terkuras memeriksa beberapa mayat yang perlu diketahui penyebab kematiannya. Dengan rasa lelah aku berharap Mas Bowo mendekapku dengan penuh kasih. Apakah Mas Bowo lembur di kantor? Ya…., mendekati akhir tahun memang Mas Bowo sibuk mempersiapkan laporan tahunan perusahaan yang dipimpinnya. Aku buka kamar Abi yang bersebelahan dengan kamarku, ternyata Abi tidur sendirian.

Aneh juga, biasanya kalau Mas Bowo lembur selalu memberitahu. Ada apa ya… Seperti ada yang menuntun, langkahku menuju kamar kerjanya yang berada di belakang. Kamarnya cukup lengkap, tidak hanya sekedar meja, kursi, dan peralatan kerja lainnya, tetapi juga tempat tidur. Lampu kamarnya sudah redup, mungkin Mas Bowo ketiduran setelah menyelesaikan pekerjaannya. Melalui jendela yang tidak tertutup, aku mengintipnya. ASTAGFIRULLAH….. Aku melihat  Mas Bowo memeluk Vina    tanpa busana. Hampir saja aku pingsan. Sesak rasanya dada ini, jantungku bagai kena palu godam. Orang yang kuanggap keluarga sendiri ternyata menusukku dari belakang.

Dengan kesadaran penuh, aku berjalan perlahan tanpa suara. meninggalan kamar terkutuk. Kuputuskan malam itu  aku kembali ke rumah sakit.  Apa yang dikatakan kolegaku benar adanya.  Ternyata lelaki tidak bisa dipercaya 100% meski sudah beristri dan mempunyai anak. Aku sangat menyesali kebodohanku selama ini

Pagi harinya aku pulang sekitar jam sembilan  pagi. Sampai di rumah Mas Bowo sudah ke kantor. Aku langsung ke kamar kerjanya. Kamarnya tertata rapi seperti tidak pernah terjadi sesuatu.

Tiga minggu berlalu, keharmonisan dengan Mas Bowo terus kujaga, biarlah semua yang kulihat malam itu kuanggap tidak pernah terjadi. Namun aku selalu menghindar  jika Mas Bowo mengajakku untuk bercinta. Terbayang bagaimana Mas Bowo bercinta dengan pembantuku. Sangat menjijikan. Aku merasa sangat terhina, disamakan dengan pembantu.

Saat itu liburan akhir tahun. Mbak Hartini, kakak kandungku, minta agar Abi bisa menenmani Pandu yang sedang merayakan ulang tahun yang ke tujuh. Ya… usia mereka tidak berbeda  jauh. Rumah kakaku sekitar  50 km ke arah puncak.

“Mas Bowo, nanti malam datang ya .. ke tempat Mbak Hartini. Pandu ulang tahun. Abi pengin nginap disana, kangen sama Pandu. Saya dan Abi berangkat duluan.”

“Ya.., sedikit agak terlambat, ada meeting yang wajib aku hadiri.”

“Jangan lupa bawa hadiah untuk Pandu.”

Aku membantu Mbak Hartini menyiapkan acaranya dan sekaligus makanan dan minuman. Teman-teman Pandu yang datang lumayan banyak, sebagian besar mereka tinggal di kompleks, hanya beberapa anak yang tinggalnya di luar kompleks.

Mas Bowo  datang ketika pesta sudah usai dengan membawa kado untuk Pandu. Sekitar Jam 23.15  Mas Bowo  pamit pulang.

“Ma, aku kembali ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaan.”

“Ya…, hati – hati dijalan.”

Aku persiapan air minum pada tempat air mineral  yang selalu dibawanya. Mas Bowo  tipe peminum, kemana pun pergi selalu membawa  air mineral.

Sekita jam 03.00  dini hari gawai ku berdering dari  nomor yang tidak aku dikenal, aku sengaja mengabaikannya. Selang tiga puluh  menit kemudian  Vina  menelponku. Aku  berusaha menyembunyikan amarahku.

“Hallo  Vina  ada apa malam – malam telpon?”

Tidak ada jawaban hanya terdengar isak tangis.

” Vina  ada apa!” Ku ulangi pertanyaanku dengan nada keras.

“Ibu, Pak  Bowo  kecelakaan, mobilnya masuk jurang. Saya tadi ditelpon polisi katanya jenazahnya sudah dibawa ke RS Polisi.” Dia menjawab dengan menangis sesenggukan.

“Innalillahi wa inna illaihi rojiun….”

Saat itu juga, aku beritahu Mbak Hartini dan Mas Hartono kalau Mas Bowo mengalami kecelakaan. Aku sampaikan berita kalau mobil Mas Bowo masuk jurang dan saat ini jenazahnya sudah di rumah sakit polisi.

“Innalillahi wa inna illaihi rojiun….” Hampir bersamaan Mbak Hartini dan Mas Hartono mengucapkan kata yang sama.

“Ikut berduka cita, semoga Dik Ida diberi ketabahan dan kesabaran. “ Kata Mbak Hartini.

“Hati- hati dijalan.” Kata Mbak Hartini lebih lanjut.

Aku hanya mengangguk sambil menahan tangis. Sesampainya di RS sudah ada  Vina  disana, terisak dalam tangis. Tak kuhiraukan tangisannya, aku langsung masuk ke kamar jenazah. Benar itu Mas Bowo,   wajahnya mengalami kerusakan. Darah kering membekas di baju dan celananya.

“Bagaimana Dok?” tanya petugas rumah sakit.

“Ya…, kecelakaan tunggal. Tidak ada yang aneh di tubuhnya.” Jawabku singkat.

Keesokan paginya jenazah Mas Bowo  aku  bawa ke tempat kelahirannya untuk disemayamkan di sana. Kulihat ibu dan ayah mertuaku terpaku menerima kedatangan anak kesayangan sudah menjadi mayat. Mata ibu mertua mengeluarkan air mata. Bergantian ibu, ayah, kakak dan adik iparku memelukku. Setelah 10 hari dirumah mertuaku, aku minta izin  untuk kembali ke rumah. Abi  aku titipkan di rumah nenek dan kakeknya. Aku tidak ingin Abi hanyut dalam kesedihan.

Kubuka pintu rumahku, setelah aku tinggalkan beberapa waktu. Aku dapati  Vina  menungguku di ruang tamu, terisak menangis. Dia pun menceritakan kalau dia adalah istri siri suamiku.  Tak kuhiraukan ucapannya. Aku hanya tersenyum sinis.

“Ibu, Mas Bowo  janji akan membelikan rumah untuk saya.” Aku tak merespon apa yang diucapkannya.

“Vina, sekarang silahkan pulang. Aku tidak memerlukanmu lagi.”

“Ini uang untuk pulang kampung.”

Aku berikan uang sekedarnya. Aku tidak mau melihat wajahnya. Sangat menjijikan,  selalu terbayang bagaimana dia bercinta dengan suamiku.

Dari pihak perusahaan menyerahkan santunan 1 milyard, disusul dari pihak asuransi sebesar 3 milyard. Uang santunan dari perusahaan aku serahkan kepada mertuaku, sementara uang polis asuransi kusimpan untuk Abi kelak.

Untuk menghilangkan bayangan yang menyakitkan, aku minta dipindahkan kekota  tempat yang relatif sepi dan tenang. Di kota ini, profesi sebagai dokter forensik dapat dikatakan jarang digunakan. Sebagai gantinya aku memberikan layanan kepada masyarakat dengan membuka praktek sebagai dokter umum secara gratis. Cukup banyak masyarakat yang datang.

“Ibu dokter, saya baru panen pisang. Semoga Ibu dokter berkenan menerimanya.”

“Ibu dokter saya bahwa jagung manis. Alhamdulillah panen jagungnya banyak.”

Terharu rasanya. Mereka dengan sukarela memberi sebagian hasil panen dengan penuh  keikhlasan.  Aku baru menyadari  bahwa kehidupan di kota kecil jauh lebih menyenangkan, memberikan kebahagiaan dan ketenangan.

Kala malam datang, kala Abi sudah tidur, terbayang kembali film kehidupananku. Saat bersama dengan dengan Juno, saat berkeluarga dengan Mas Bowo dan yang terakhir saat melihat Mas Bowo bercinta dengan Vina.

Tiba-tiba rasa rindu kepada Juno  menyeruak di dada. Apakah dia sudah menikah? Bagaimana dengan kehidupananya? Apakah sudah lulus sebagai Sarjana Pertamanan dari Universitas terbuka? Dan masih banyak pertanyaan lainnya.

Kala itu, hari Minggu yang cerah, aku sedang duduk sendirian di teras memperhatikan Abi yang sedang bermain sepak bola dengan temannya. Alangkah gembiranya mereka. Persahabatan tanpa membedakan status sosial. Terlihat seorang wanita dan lelaki memasuki pagar rumahku. Pakainnya rapi dengan membawa tas kerja.

“Selamat pagi Dokter Ida.”

Dheg. Jarang orang memanggilku Dokter Ida. Hanya kolegaku saja yang berada di rumah sakit terdahulu.

“Saya Endang , dokter forensik dan teman saya Pak Agus detektif swasta. Kami berdua disewa oleh Kantor Asuransi.”

Dheg. Kembali jantungku berbunyi untuk kedua kalinya. Sepertinya ada masalah yang sangat serius.

“Oh… mari masuk.”

“Terima kasih.”

 “ Dokter Ida, kami berdua ditugaskan untuk melakukan penyidikan atas kematian suami Ibu. Kami berdua sudah memeriksa dengan cermat.  Kami juga sudah mengetahui kasus pembantu ibu yang bernama Vina. Sebagai wanita, saya tidak bisa menerima apa yang dilakukan Vina dengan  suami Ibu. Sebagai wanita saya sangat prihatin.”

“Ibu Ida, dari Kantor Asuransi telah ditegaskan bahwa penyidikan ini sifatnya rahasia dan hanya untuk intern Kantor Asuransi saja bukan untuk yang lainnya..”

“Ya.., saya paham.”

 “Ibu Ida, saya tidak perlu menjelaskannya lebih lanjut. Ibu pasti sudah tahu apa yang saya maksudkan. Permintaan dari Kantor Asuransi sangat sederhana, kembalikan uang pertanggungan atas nama suami Ibu ditambah biaya sewa selama kami melakukan tugas.”

Aku terdiam sejenak. Aku menyadari sepenuhnya bahwa Ibu Endang   dan Pak Agus sudah mengetahui apa yang saya lakukan.

“Baik Ibu Endang , dalam waktu dekat akan segera saya selesaikan permintaan Ibu.”

 “Terima kasih Ibu Endang  atas pengetiannya. Biarlah ini menjadi rahasia kita bertiga. Saya tidak ingin  orang lain mengetahui suatu skandal yang memalukan terjadi di rumah saya. Suami saya sampai kapanpun harus tetap menjadi suami terhormat di mata semua orang.”

“Ya…, saya paham, kehormatan Ibu dan juga kehormatan suami Ibu harus tetap terjaga.”

Aku lihat kembali Abi yang masih asyik bermain bersama teman -temannya. Alangkah gembiranya mereka yang belum mengenal kehidupan yang sebenarnya. Hanya Abi  satu-satunya yang menjadi penyemangatku. Aku yakin bahwa Abi tetap bangga akan ayahnya. Aku pun hidup cukup bahagia sebagai orangtua tunggal. Kadang ingin mencari Arjuno, tapi keinginan itu cepat-cepat aku bunuh.

Ingat, aku dokter forensik  yang sejak kecil selalu ditanamkan akan nilai  kejujuran dan  kehormatan. Keduanya tidak bisa ditawar.

—————

Ditulis oleh:

Alumni 1973

BAMBANG WINARTO dilahirkan di Magelang pada tanggal 15 Juni 1954. Selesai mengikuti Pendidikan di SMA N Kendal 1973, ia melanjutka di Fahutan di IPB (1978). Karir di pemerintahan mulai berkembang setelah memperoleh gelar Magister Manjemen (MM). Karier tertinggi sebagai ASN sebagai Kepala Kanwil Kehutanan Provinsi Sulawesi Utara (2000). Pernah sebagai penulis non fiksi tentang kehutanan. KAMUS KEHUTANAN merupakan karya fenomenalnya yang menjadi pegangan para rimbawan. Saat ini menekuni penulisan cerita pendek (cerpen) dan puisi. Cerpen – cerpen yang ditulisnya di unggah pada web CERPENMU dan selalu menjadi nominasi cerpen terbaik setiap bulannya.

Tinggalkan Komentar

LANGGANAN

BULETIN KAMI