Aruniku Harapanku

Aruniku Harapanku

28 Des 2022
1.760

“Aruni berangkat, ya, Ma!”

“Ya, Sayang. Hati-hati … pulang sekolah langsung kembali ke rumah, ya!”

“Iya, Ma.”

Setelah sarapan pagi, Aruni mencium punggung tanganku lalu berangkat ke sekolah bersama ayahnya–yang kebetulan lokasi sekolahnya satu arah dengan kantor sang ayah.

Sedari kecil, aku mendidik putriku dengan cara tegas dan disiplin. Sejak Aruni masuk SD, aku menanamkan sebuah kewajiban padanya agar dia selalu bisa mempertahankan peringkat satu di kelas.

Kini, putriku telah duduk di bangku kelas XI SMA. Pernah suatu waktu, gadis kecilku mendapatkan nilai tujuh saat pelajaran Matematika. Aku marah besar padanya. Dia menangis sesenggukan hingga lelah dan tertidur.

Kala dia sudah terlelap, aku membingkai wajah cantiknya dan mengecup keningnya sebagai tanda permintaan maaf karena telah memarahinya habis-habisan.

“Maafkan Mama, Nak. Semua yang Mama lakukan untuk kebaikanmu di masa depan,” bisikku lirih.

.

Seminggu kemudian ….

Sebagai seorang motivator bisnis yang sudah mulai dikenal oleh masyarakat, menjadikan jadwal kerjaku semakin padat. Beberapa rekan yang tergabung dalam bisnis multi level marketing atau bisnis-bisnis lainnya yang sedang menjadi tren saat ini, selalu memintaku untuk menjadi pengisi acara.

Hari, ini aku mengisi acara di Kota Bandung.

“Bu Anggi, boleh saya bertanya? Nama saya Yusi. Saya adalah salah satu pengagum Ibu. Bu … bagaimana caranya agar bisa mengatur waktu antara pekerjaan dan keluarga dengan baik? Jujur, saya sangat susah membagi waktu untuk keluarga,” tanya seorang peserta seminar padaku.

“Baik, Bu Yusi. Terima kasih atas pertanyaannya.”

Aku pun menjawab pertanyaan Bu Yusi dengan gambar-gambar ilustrasi yang selalu kusiapkan saat mengisi acara.

Bu Yusi dan peserta lainnya sepertinya cukup puas dengan jawaban yang kuberikan. Mereka semua memberikan tepuk tangan yang meriah di akhir acara.

.

Kereta Harina malam membawaku kembali ke kotaku tercinta yang mendapat julukan Venetie van Java. Kota yang terkenal dengan makanan khas lumpia ini.

Sepanjang perjalanan, aku teringat almarhum ayahku. Beliau merupakan seorang mantan anggota militer pada zaman penjajahan Belanda. Kedisiplinan dan ketegasan yang dimilikinya, diturunkan pada anak-anaknya–termasuk aku. Aku bangga mempunyai sosok ayah sepertinya; tegas, disiplin, serta cerdas. Karena terinspirasi beliau, aku pun menerapkan cara mendidik anak selayaknya Ayah mendidikku dulu.

Tepat pukul 03:55 WIB, kereta api yang kutumpangi berhenti di Stasiun Tawang Semarang. Suamiku tercinta telah siaga menungguku di ruang tunggu penjemputan penumpang.

.

Setelah tiba di rumah, aku membersihkan diri di kamar mandi lalu merebahkan tubuh di atas tempat tidur. Lelah yang melanda, menuntut tubuh ini untuk segera mendapatkan haknya beristirahat.

.

Hari ini, ada undangan wali murid untuk pengambilan rapor. Jam sembilan pagi, aku mengeluarkan sepeda motor untuk menuju ke sekolah Aruni. Aku memerlukan waktu sekitar dua puluh menit untuk sampai di sekolah.

Satu per satu wali murid dipanggil oleh wali kelas Aruni. Beraneka ragam reaksi orang tua murid setelah rapor sang anak berada di genggaman; ada yang raut wajahnya berbinar, sedih, dan ada pula yang terlihat datar tanpa ekspresi apa pun. Aku merasa santai dan tenang karena putriku pasti akan menduduki peringkat pertama, seperti sebelum-sebelumnya.

Tiba giliranku dipanggil oleh wali kelas Aruni. Betapa kagetnya aku saat mendapati nilai pelajaran Aruni yang mengalami penurunan drastis, bahkan ia hanya mampu berada di peringkat ketiga. Sungguh memalukan! Setelah berpamitan pada wali kelas Aruni, aku segera pulang ke rumah.

Saat tiba di rumah, aku duduk di kursi teras yang menghadap ke taman minimalis. Aku sengaja menunggu kedatangan Aruni dan menagih penjelasan darinya tentang nilai rapor yang baru saja kuterima. Emosi yang kucoba tahan sejak di sekolah Aruni tadi, saat ini siap meledak bagaikan gunung merapi berstatus level empat.

Aku berjalan mondar-mandir ke teras lalu ke kamar, gelisah dan kesal menjadi satu. Hingga menjelang magrib, suamiku pulang ke rumah, tetapi Aruni belum menampakkan batang hidungnya.

“Mama, kok, wajahnya kelihatan kesal gitu. Aruni mana, Ma?” tanya suamiku.

“Belum pulang, Pa. Sudah tahu nilai rapornya turun semua, dia malah keluyuran tidak jelas!” jawabku dengan dada naik-turun menahan emosi.

“Sabar, Ma … tenang. Mama jangan emosi terus, nanti Aruni malah takut mau pulang ke rumah.”

“Papa malah doanya jelek begitu. Bantu Mama cari tahu di mana posisi Aruni sekarang! Mama sudah berulang kali menghubungi nomor teleponnya, tapi tidak aktif, Pa. Pesan yang Mama kirim lewat WA cuma centang satu.”

Selepas magrib, aku dan suami mencari tahu keberadaan Aruni melalui teman-teman sekolahnya. Jawaban mereka kompak: tidak tahu keberadaan Aruni. Ingin sekali rasanya aku melapor ke kantor polisi terdekat, tetapi hilangnya Aruni belum genap satu hari, setidaknya aku dan suami akan berusaha mencarinya terlebih dahulu.

Pikiranku kacau serta kalut tak menentu. Di dalam mobil yang dikendarai suamiku, aku terus sibuk mengawasi jalanan di setiap sudut kota. Kami menyusuri satu per satu lokasi yang biasanya dijadikan tempat favorit para remaja; mulai dari Kota Lama, kafe di sepanjang Jalan Pleburan hingga area Tembalang. Namun, tak ada tanda-tanda keberadaan putri kecilku yang kini telah beranjak dewasa.

Di tengah rasa bingung, ponselku berdering. Aku menerima panggilan video call masuk dari Adam, kakak kelas Aruni yang tinggal satu kompleks denganku.

“Tante Anggi … ini Adam. Tadi aku dapat nomor telepon Tante dari Mama. Sekarang, aku lagi berada di Kafe Pluto. Aruni ada di sini, Tante. Sepertinya dia mabuk,” ucap Adam sembari mengarahkan kamera ponsel ke meja belakangnya.

“Adam … bantu Tante jagain Aruni sebentar, ya. Tante segera meluncur ke sana,” ujarku.

Aku merasa hempas dan kehilangan pijakan saat menyaksikan pemandangan dari video call yang ditunjukkan oleh Adam. Hatiku hancur, seolah-olah ada sesuatu yang meremas kuat di dalam dada. Sakit!

Bagiku, Aruni ibarat tanaman berbunga yang selama ini kusiram, kupupuk, dan kujaga dari incaran hama pengganggu. Kini, tanaman bungaku mulai layu, bahkan beberapa daunnya mulai berguguran satu per satu.

Aku menangis tersedu di dalam mobil yang terus melaju. Suamiku meraih bahuku yang berguncang hebat. Dia berusaha menenangkanku seraya tangan kanannya tetap fokus menjalankan kemudi menuju kafe yang tadi disebut oleh Adam.

Saat memasuki pintu kafe, aku mendapati Aruni sedang meneguk minuman beralkohol di dalam gelas kecil dengan wajah kusut serta rambut yang tampak awut-awutan. Di sebelah kanan putriku, terlihat sosok pria yang kutaksir seumuran suamiku tengah memeluk Aruni dengan mesra.

Marah, kesal, sedih, dan kecewa; semua bercampur menjadi satu ketika aku melihat adegan menjijikkan itu. Suamiku menarik paksa lengan pria yang lebih tepat dipanggil “Om” oleh Aruni, lalu menyuruh pria berkepala plontos itu pergi.

Gadisku kaget menyadari adanya keributan di mejanya. Dia hendak berdiri dari kursi yang didudukinya, tetapi tubuhnya oleng. Suamiku saat itu tepat berada di belakang Aruni, sigap meraih tubuh putrinya yang hampir jatuh. Aku dan suami segera membawa Aruni pulang ke rumah.

Setelah tiba di rumah, suamiku membopong tubuh Aruni, kemudian merebahkannya di atas tempat tidur. Lelaki yang telah menikahiku selama dua puluh tahun itu lantas memintaku untuk membersihkan tubuh Aruni.

Perlahan, aku menyeka seluruh tubuh putri kecilku dengan handuk basah lalu mengganti bajunya yang terkena muntahan dengan baju bersih yang kuambil di lemari. Aruni masih terlelap dalam tidur, mungkin karena pengaruh cairan alkohol yang masuk ke dalam tubuhnya.

Aku mengesah seraya memandangi wajah putri kesayanganku. Sekali pun tak pernah terlintas dalam pikiranku, Aruni akan melakukan ini semua. Dia anak baik dan penurut. Bahkan, saat aku melarangnya untuk berpacaran, dia tak pernah menunjukkan perlawanan.

.

Pukul 03:40 WIB, aku membuka mata dan melihat Aruni sedang menangis di balkon kamarnya. Aku sengaja tidur di kamar Aruni, menemaninya tidur hingga pagi menjelang. Aku beranjak dari tempat tidur lalu berjalan menuju balkon.

“Aruni ….” Aku mengusap lembut lengan Aruni dan meraih kepalanya ke dalam dekapanku.

“Maafkan Aruni, Ma. Aruni memang anak bodoh, tak bisa mempertahankan peringkat satu. Aruni tak bisa menjadi anak kebanggaan Mama dan Papa. Jika Mama ingin menghukum, Aruni siap,” ucapnya dengan suara terisak.

Aku menghela napas, sesak rasanya mendapat pengakuan dari putriku. Ego yang selama ini kupelihara, ternyata berdampak fatal pada kesehatan mental putri semata wayangku.

“Iya, Nak. Maafkan Mama juga, ya? Mama terlalu egois, memaksamu untuk selalu menuruti keinginan Mama.” Kupeluk tubuhnya lebih erat lagi.

Aku merasa sangat bersalah. Selama ini, aku selalu membanggakan putriku di hadapan keluarga besar dan juga teman-temanku.

Dengan penuh rasa jemawa, aku mengatakan pada mereka; putriku cantik, putriku hebat, putriku selalu berprestasi, putriku anak penurut, dan hal-hal lain yang menurutku patut untuk dibanggakan.

Kejadian yang baru saja menimpa keluarga kecilku, seakan-akan menamparku sebagai ibu sekaligus motivator handal yang dikagumi oleh banyak orang.

Orang-orang menilaiku sebagai sosok wanita hebat, dan menjadikan aku sebagai role model dalam kehidupan mereka. Namun pada kenyataannya, aku adalah seorang ibu dan motivator yang gagal untuk keluargaku sendiri.

.

Semarang, 27 Desember 2022

Ditulis oleh:

Alumni 1999

Alumni Fakultas Hukum Universitas Islam Sultan Agung Semarang. Seorang wanita berzodiak Capricorn yang pernah bekerja sebagai Duty Leader di XL Center Semarang (XL Axiata) sampai akhir tahun 2016. Beberapa cerpen yang dibuat dari hobinya menulis, dapat dijumpai di grup Komunitas Literasi Patrick Kellan, Komunitas Bisa Menulis, KBM App, Wacaku, serta grup literasi lainnya. Selain itu, cerpen versi cetaknya dapat dijumpai pada buku antologi cerpen berjudul Tentang Seseorang-Jilid 3 (Penerbit Nahima Press) dan buku antologi cerpen berjudul Bangkit dari Keterpurukan (Detak Pustaka Publisher).

Tinggalkan Komentar

LANGGANAN

BULETIN KAMI